Ini Alasan Krusial Mengapa Saya Menerbitkan Buku "Di Antara Peluang dan Kehancuran"

Bukan sekadar buku. Ini adalah pernyataan sikap: berhasil tanpa kehilangan diri.

Ada masa dalam hidup ketika saya menyadari bahwa kegelisahan bukanlah musuh. Ia adalah panggilan. Kegelisahan itu tidak lahir karena kurangnya peluang. Justru ia muncul ketika saya melihat betapa dunia menyediakan begitu banyak kesempatan—namun tidak semua kesempatan membawa kita semakin dekat kepada makna. Nah, di situlah sebenarnya buku "Di Antara Peluang dan Kehancuran: Seni Menjaga Kehidupan dari Jalan Pintas" menemukan rahimnya.

Saya melihat zaman ini bergerak sangat cepat. Orang berlomba-lomba mencapai sesuatu. Jabatan. Pengakuan. Kekayaan. Popularitas. Semua tampak begitu mungkin diraih. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, saya teringat satu ayat yang selalu menggugah:

ٱعْلَمُوٓا أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat di atas bukan larangan untuk berusaha. Sama sekali bukan. Ayat tersebut adalah peringatan agar kita tidak terperdaya. Tidak semua yang tampak sebagai peluang adalah karunia. Sebagian adalah ujian.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya:

وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةًۭ ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)” (QS. Al-Anbiya: 35)

Sering kali kita mengira ujian hanya datang dalam bentuk kesulitan. Padahal kelapangan pun adalah ujian. Kesempatan yang luas, jabatan yang tinggi, akses yang terbuka—semuanya bisa menjadi sarana naik derajat, atau justru awal dari kejatuhan.

Jalan pintas selalu tampak rasional. Ia menawarkan efisiensi. Ia menjanjikan hasil cepat. Tetapi sesuatu di dalam hati selalu tahu: ada harga yang tak terlihat.

Di sinilah saya merenungkan ayat yang sangat mendasar:

وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَـٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campuradukkan yang benar dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya” (QS. Al-Baqarah: 42)

Betapa sering manusia tergoda bukan untuk melakukan kebatilan secara terang-terangan, tetapi untuk mencampuradukkan yang benar dengan yang salah. Sedikit manipulasi dianggap wajar. Sedikit kompromi dianggap lumrah. Sedikit penyimpangan dianggap tidak apa-apa. Padahal kehancuran jarang datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari pembiaran kecil yang berulang.

Saya menulis buku ini sebagai percakapan batin. Sebab saya menyadari bahwa setiap manusia memiliki ruang sunyi tempat ia memilih. Di ruang itulah karakter dibentuk.

Al-Qur’an menegaskan dengan sangat jernih:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Tidak ada hal yang luput dari pandangan Allah. Pilihan yang tampak sepele dalam pandangan manusia bisa memiliki konsekuensi besar dalam timbangan akhirat.

Saya semakin menyadari bahwa keberhasilan yang tidak diberkahi akan terasa hampa. Ia mungkin memberi tepuk tangan, tetapi tidak selalu memberi ketenangan.

Dan ketenangan, dalam Al-Qur’an, bukan sekadar kondisi psikologis. Ia adalah anugerah spiritual:

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan tidak lahir dari hasil instan. Ia lahir dari keselarasan antara tindakan dan iman. Antara keputusan dan keyakinan.

Mengapa saya menerbitkan buku ini?

Karena saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa hidup ini amanah. Bahwa setiap peluang membawa pertanyaan: apakah ini akan mendekatkan saya kepada ridha Allah, atau justru menjauhkan saya darinya?

Kita sering takut kehilangan kesempatan. Padahal Al-Qur’an telah memberi prinsip yang kokoh:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًۭا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat di atas adalah penawar bagi kegelisahan kita. Ia menegaskan bahwa menjaga integritas tidak akan membuat kita kekurangan. Justru di situlah pintu-pintu tak terduga dibuka.

Menjaga diri di era instan adalah bentuk ketakwaan yang sunyi. Ia tidak selalu disorot. Ia tidak selalu dipuji. Tetapi ia dicatat.

Saya ingin ketika semua peluang telah berlalu dan semua jabatan telah selesai, yang tersisa bukan penyesalan, melainkan ketenangan. Karena pada akhirnya, kita semua akan kembali.

Dan pada hari ketika segala sesuatu diungkapkan, yang menyelamatkan bukanlah kecepatan kita meraih dunia, melainkan kejernihan hati dalam menjalaninya.

Buku ini adalah ikhtiar kecil untuk berdiri di antara peluang dan kehancuran—dengan kesadaran, dengan iman, dan dengan harapan bahwa setiap langkah yang dijaga dari jalan pintas akan diganti oleh Allah dengan keberkahan yang jauh lebih luas. Sebab hidup yang utuh bukan hanya tentang mencapai sesuatu, tetapi tentang pulang dalam keadaan selamat. Baarokallahu fiikum. (Buku di atas tersedia di Shopee melalui di link ini: Buku "Di Antara Peluang dan Kehancuran")

Post a Comment for "Ini Alasan Krusial Mengapa Saya Menerbitkan Buku "Di Antara Peluang dan Kehancuran""