![]() |
| Langit memberi cahaya, bumi menagih kesaksian. |
Dalam sejarah kenabian, tidak semua peristiwa dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah, dan tidak pula untuk berhenti pada kekaguman. Sebagian dihadirkan sebagai titik orientasi, atau penanda arah bagi perjalanan iman manusia. Isra Mi’raj berdiri pada wilayah itu: sebuah pengalaman transendental yang menguji bukan sejauh mana nalar mampu menjangkaunya, melainkan sejauh mana kesadaran manusia bersedia dibentuk olehnya.
Perjalanan Baginda Rasulullah Muhammad ﷺ melampaui batas ruang dan waktu sesungguhnya adalah undangan untuk menimbang ulang relasi antara langit dan bumi, antara iman dan kehidupan sosial. Sebab spiritualitas yang tidak kembali ke realitas akan berakhir sebagai pelarian, sementara praksis sosial yang tercerabut dari akar-akar kedalaman batin akan kehilangan arah etik. Isra Mi’raj hadir untuk menolak kedua ekstrem itu, sekaligus menawarkan jalan tengah: kesalehan yang berakar pada transendensi dan berbuah pada kemanusiaan.
Di titik itulah Isra Mi’raj melampaui statusnya sebagai peristiwa historis. Ia menjelma menjadi kerangka makna, bahwa kedekatan dengan Tuhan bukanlah puncak yang memisahkan, melainkan sumber daya moral yang menuntut tanggung jawab publik. Maka, memperingati Isra Mi’raj sejatinya adalah mengajukan satu pertanyaan mendasar: apakah iman kita masih hidup sebagai kesadaran etik, atau telah menyempit menjadi rutinitas simbolik semata?
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan Isra Mi’raj, melainkan untuk membuka ruang makna. Ruang tempat pembaca diajak menurunkan kembali makna langit ke dalam dunia, sebagai langkah awal merekonstruksi kesalehan yang tidak hanya saleh di hadapan Tuhan, tetapi sekaligus juga bermakna bagi sesama.
Isra Mi’raj sering dikenang sebagai peristiwa spiritual yang agung, sarat mukjizat dan keajaiban. Namun, di balik kemegahan kisahnya, tersembunyi sebuah pesan yang jauh lebih mendasar: panggilan untuk menata ulang cara kita memahami kesalehan. Isra Mi’raj bukan hanya tentang perjalanan seorang Nabi ke langit, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai langit itu diturunkan kembali ke ruang kehidupan bersama.
Peristiwa ini bermula dari fase paling sunyi dalam hidup Rasulullah Muhammad ﷺ. Kesedihan, penolakan, dan luka batin menjadi latar sebelum Allah memperjalankan hamba-Nya. Dari sini kita belajar bahwa spiritualitas Islam tidak lahir dari "zona nyaman", melainkan dari keteguhan menghadapi kenyataan. Kesalehan yang sejati tidak tumbuh dalam ruang steril, tetapi ditempa oleh empati dan kesabaran di tengah penderitaan.
Isra, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, menegaskan dimensi sosial dan historis iman. Ia menghubungkan pusat ibadah dengan pusat peradaban, menyatukan doa dengan tanggung jawab kemanusiaan. Masjidil Aqsha menjadi simbol bahwa kesalehan tidak boleh berhenti pada relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi harus menjelma menjadi kepedulian terhadap keadilan, martabat manusia, dan penderitaan kolektif. Di sinilah fondasi kesalehan publik mulai dibangun.
Mi’raj, puncak kedekatan dengan Tuhan, justru melahirkan perintah shalat: ibadah yang paling membumi. Shalat adalah ritme etika, pengingat keterbatasan manusia, sekaligus latihan disiplin sosial. Ia membentuk kesadaran waktu, kejujuran batin, dan sekaligus kerendahan hati. Maka, Mi’raj bukan ajakan untuk menjauh dari dunia, melainkan mandat untuk kembali ke dunia dengan orientasi moral yang lebih jernih.
Dalam konteks kehidupan beragama hari ini, Isra Mi’raj mengajukan pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah kesalehan kita masih sebatas simbol personal semata, ataukah telah bertransformasi menjadi etika publik? Apakah ibadah kita telah menumbuhkan kepekaan terhadap ketidakadilan, kejujuran dalam kepemimpinan, dan keberpihakan pada yang lemah? Tanpa dimensi ini, kesalehan berisiko menyempit menjadi rutinitas yang kehilangan daya transformatif.
Rekonstruksi kesalehan publik menuntut keberanian untuk meninjau ulang cara kita beragama. Bukan dengan menanggalkan ritual, tetapi dengan mengembalikan ruhnya. Isra Mi’raj mengajarkan keseimbangan antara iman dan akal, antara yang transendental dan yang sosial. Ia menolak spiritualitas yang mengasingkan diri dari realitas, sekaligus mengkritik aktivisme yang kehilangan kedalaman batin.
Peringatan Isra Mi’raj, terlebih ketika jatuh pada hari Jumat, hari refleksi kolektif umat, seharusnya menjadi momentum pembaruan orientasi bersama. Dari kesalehan yang individual menuju kesalehan yang berjejak di ruang publik. Dari kekhusyukan personal menuju keberanian moral dalam kehidupan sosial.
Pada akhirnya, Isra Mi’raj bukan tentang sejauh apa Baginda Rasulullah Muhammad ﷺ naik ke langit, melainkan sejauh apa kita sebagai umatnya bersedia menghadirkan nilai-nilai langit di bumi. Kesalehan publik yang kita bangun hari ini adalah ukuran sejati keberhasilan memahami Isra Mi’raj, ketika iman tidak hanya terasa di sajadah, tetapi benar-benar hadir dalam keadilan, kejujuran, dan kasih sayang di tengah masyarakat.
Sesungguhnya, kesimpulan tentang Isra Mi’raj sebagai fondasi rekonstruksi kesalehan publik tidak lahir dari spekulasi moral semata. Ia berakar pada wahyu atau pada teks suci yang sejak awal menempatkan pengalaman spiritual Nabi dalam bingkai tanda, bukan sekadar peristiwa. Karena itu, sebelum makna-makna sosial itu kita bawa lebih jauh ke ruang praksis, ada baiknya kita menoleh sejenak ke sumber asalnya: wahyu yang menurunkan langit ke dalam bahasa manusia.
Di sanalah Isra Mi’raj pertama kali diceritakan, bukan untuk mengangkat umat ke langit, tetapi untuk menanamkan orientasi etis di bumi. Ayat-ayat Al-Qur’an tidak sekadar mengabadikan peristiwa, melainkan memberi kunci pembacaan, bahwa setiap pengalaman transendental selalu mengandung mandat moral. Dari titik itulah, kesalehan publik menemukan legitimasi dan kedalaman maknanya.
Mari kita cermati kembali pesan wahyu, agar artikel ini tidak kehilangan arah dan pijakan.
سُبْحَانَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَى ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isrā’: 1)
Ayat di atas menegaskan bahwa Isra Mi’raj bukan semata perjalanan ruang, melainkan perjalanan makna. Ia disebut sebagai ayat, atau tanda, yang menuntut pembacaan etis, bukan sekadar kekaguman historis. Keberkahan Masjidil Aqsha yang disebutkan Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa spiritualitas selalu terkait dengan kemaslahatan dan kemanusiaan.
ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an), dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45)
Shalat, buah utama Mi’raj, tidak dihadirkan sebagai ritual hening semata, tetapi sebagai mekanisme moral. Ia menjadi ukuran kesalehan publik: sejauh mana ibadah membentuk kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial. Ketika shalat tidak lagi mencegah kezaliman, barangkali yang perlu direkonstruksi bukan ajaran shalat, melainkan kesadaran kita akan esensi krusial dari shalat itu sendiri.
Ayat di atas mengingatkan: Isra Mi’raj adalah peristiwa langit yang menuntut pembuktian di bumi, di ruang etika, tanggung jawab sosial, dan keberpihakan pada martabat manusia.
Wahyu tidak pernah berhenti pada teks. Ia selalu menunggu untuk diterjemahkan ke dalam sikap, keputusan, dan keberpihakan. Ayat-ayat tentang Isra Mi’raj tidak dimaksudkan untuk disimpan sebagai memori spiritual semata, melainkan untuk diuji dalam kehidupan nyata, di ruang sosial tempat iman bertemu dengan kekuasaan, kepentingan, dan penderitaan manusia.
Di titik inilah kesalehan publik menemukan ujian sejatinya, yaitu seberapa jujur kita menghadirkan nilai-nilai wahyu dalam keadilan, kejujuran, dan empati. Isra Mi’raj, sebagaimana dituturkan wahyu, adalah undangan abadi untuk memastikan bahwa setiap gerak mendekat kepada Tuhan selalu diiringi oleh keberanian untuk membela martabat sesama.
Maka, peringatan Isra Mi’raj seharusnya tidak kita akhiri dengan seremoni, melainkan dengan kesediaan batin untuk berubah. Sebab wahyu yang benar-benar hidup adalah yang membentuk cara kita hadir di tengah dunia. Baarokallahu fiikum.

Post a Comment for "Isra Mi’raj dan Rekonstruksi Kesalehan Publik"
Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.