![]() |
| Alquran adalah cahaya makna. Ilmu adalah ikhtiar manusia. Keduanya luhur—selama tidak dipertukarkan. |
Di tengah derasnya arus media sosial, kita menyaksikan satu fenomena yang menarik sekaligus mengundang perenungan: maraknya iklan yang mempromosikan apa yang disebut sebagai Alquran Medis. Ia hadir dengan bahasa yang tenang, visual yang menenteramkan, serta diksi yang cermat—nyaris tanpa klaim eksplisit yang berlebihan.
Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari realitas sosial yang nyata: meningkatnya beban penyakit kronis, biaya pengobatan yang tidak ringan, serta kelelahan batin manusia modern yang sering kali mencari sandaran makna di tengah sakit yang berkepanjangan. Dalam konteks seperti itu, agama tampil sebagai pelipur, dan Alquran menjadi rujukan paling luhur.
Di titik ini, penting untuk berlaku adil sejak awal: sebagian besar iklan yang mengusung istilah “Alquran Medis” tidak secara eksplisit menjanjikan kesembuhan, tidak pula secara terang-terangan memosisikan dirinya sebagai pengganti pengobatan medis. Secara tekstual, pesan yang disampaikan sering kali aman, normatif, bahkan tampak berhati-hati.
Namun persoalan reflektifnya tidak berhenti pada apa yang diucapkan.
Dalam komunikasi publik—terlebih di ruang periklanan—makna tidak hanya dibangun oleh kalimat yang tertulis, tetapi juga oleh istilah yang dipilih, visual yang ditampilkan, serta konteks psikologis audiens yang menerima pesan. Di sinilah istilah “medis” bekerja bukan sekadar sebagai kata, melainkan sebagai penanda makna yang sarat asosiasi.
Kata medis membawa imajinasi tentang terapi, penyembuhan, dan otoritas ilmiah. Ketika ia dilekatkan pada Alquran, meskipun tanpa janji eksplisit, kesan ke arah fungsi terapeutik jasmani hampir tak terhindarkan—terutama bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi rapuh: orang sakit, keluarga pasien, atau mereka yang lelah menghadapi proses pengobatan yang panjang.
Di sinilah letak kegelisahan yang perlu dirawat dengan jujur. Bukan pada klaim yang dinyatakan, melainkan pada harapan yang tumbuh secara implisit.
Al-Qur'an memang menyebut dirinya sebagai syifā’. Namun syifa yang dimaksud pertama-tama adalah penyembuhan batin: kegelisahan, keputusasaan, dan kebuntuan makna. Alquran membimbing manusia memahami sakit bukan sekadar sebagai gangguan tubuh, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang sarat hikmah.
Ketika Alquran kemudian dikemas dengan label “medis”, terjadi pergeseran halus namun penting: dari sumber makna menuju persepsi fungsi. Pergeseran ini tidak selalu disengaja, tetapi dampaknya tetap nyata. Ia berpotensi menumbuhkan ekspektasi yang tidak pernah diucapkan, namun diam-diam dibaca dan dirasakan.
Dalam etika kesehatan dan komunikasi publik, wilayah implisit ini justru paling sensitif. Sebab audiens yang paling mudah menangkap kesan tersebut adalah mereka yang paling membutuhkan harapan. Dan harapan, jika tidak disertai kejernihan batas, bisa berubah menjadi beban baru ketika realitas tidak berjalan sesuai bayangan.
Islam sendiri tidak pernah mempertentangkan iman dan ikhtiar. Doa dan pengobatan berjalan beriringan. Spiritualitas menguatkan jiwa, sementara ilmu pengetahuan bekerja pada ranah sebab-akibat yang terukur. Ketika keduanya diletakkan pada tempatnya, manusia ditolong secara utuh—lahir dan batin.
Karena itu, refleksi ini tidak dimaksudkan untuk menutup ruang spiritual dalam proses penyembuhan. Justru sebaliknya: ia ingin menjaga kemuliaan Alquran agar tidak dibebani ekspektasi yang bukan ranahnya, dan menjaga dunia medis agar tetap berdiri di atas kejujuran ilmiah dan tanggung jawab etik.
Dalam dunia yang semakin bising oleh iklan dan simbol, kita barangkali perlu belajar satu kebijaksanaan sederhana: menjaga bukan hanya kebenaran klaim, tetapi juga kebersihan kesan.
Sebab Alquran tidak memerlukan label apa pun untuk menjadi cahaya. Dan manusia yang sakit tidak membutuhkan harapan yang dibungkus ambigu, melainkan pendampingan yang jujur—secara iman dan ilmu.
Di sanalah agama tetap luhur, ilmu tetap terhormat, dan harapan tumbuh tanpa harus mengecewakan. Wallahua'lam.

Post a Comment for "Alquran, Kesembuhan, dan Godaan Label “Medis”"
Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.