Ini Prinsip Saya Seputar Kemunafikan



Munafik itu salah satu sifat yang sangat buruk ...
Tidak kalah buruknya dengan munafik adalah sifat mudah menuduh orang lain munafik ...

Karena kasih sayang-Nya, Allah menginformasikan tanda-tanda munafik kepada hamba-hamba-Nya. Tetapi, tanda-tanda munafik itu diinformasikan-Nya bukan untuk menjadi bahan tuduhan kepada orang lain, melainkan sebagai bahan introspeksi diri, bahan muhasabah diri, atau bahan tazkiyatun nafs.

Kalau perbuatan menuduh itu bisa menyelesaikan masalah, pasti Allah memerintahkan agar kita memperbanyak melakukan tuduhan; dan pasti Baginda Rasulullah Muhammad SAW sudah lebih dahulu mencontohkannya.

Hidup ini akan menjadi indah, manakala hati, pikiran, perasaan, tulisan, ceramah, khutbah, atau segala perbuatan, kita penuhi dengan hal-hal yang membawa manfaat, hal-hal yang menawarkan solusi, dan sama sekali bukan dengan memperbanyak melakukan tuduhan kepada orang lain.

Tentang kemunafikan, tidak cukup kita berniat, berikhtiar dan berdoa agar kita tidak tergolong dalam kelompok munafik. Kita juga harus berniat, berikhtiar dan berdoa kepada Allah agar kita tidak memiliki sifat mudah menuduh orang lain munafik.

Tentang penilaian kepada orang lain, apakah mereka munafik atau tidak, apakah mereka kafir atau tidak, yang paling aman (untuk diri sendiri dan orang lain) adalah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah saja, karena argumen yang paling kuat berikut ini:

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 117)

Sifat mudah menuduh orang lain munafik, sangat tidak disukai oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dari banyak Hadits Shahih tentang hal tersebut, satu diantaranya adalah sebagai berikut:

Dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa Mu’az bin Jabal ra sholat dengan Rasululllah SAW. Setelah itu ia kembali kepada kaumnya dan sholat bersama mereka, lalu ia membaca surat Al-Baqarah (surat yang panjang-Red). Ada seorang pria mendahului dan sholat dengan ringkas saja. Kejadian tersebut dilaporkan seseorang kepada Mu’az , lalu ia berkata: “Orang itu munafik.” Kabar ini sampai kepada orang itu. Lalu ia datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ya, Rasulullah ! kami ini bekerja dengan tangan kami. Kami mengairi kebun-kebun kami. Kemarin Mu’az sholat bersama kami dan ia membaca surat Al-Baqarah. Lalu saya mendahului. Ia menuduh saya munafik !” Rasulullah SAW berkata, “Hai Mu’az, tukang membuat keributankah engkau ?” Rasul mengucapkannya hingga tiga kali. “Bacalah Surat ‘Wasy-syamsi wa dhuhaha’, surat ‘Sabbihisma rabbikal a’la, dan surat-surat yang seperti itu” (Hadis Shahih Bukhari No. 1713)

Maafkan segala kekeliruanku. Saya masih berlumuran dosa. Tuntunlah saya kawan menuju kebaikan dengan cara-cara yang penuh hikmah ...

0 Response to "Ini Prinsip Saya Seputar Kemunafikan"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.