Siapa Bilang Masa Lalu Kita Tidak Bisa Dirubah?

Kebanyakan orang beranggapan bahwa masa lalu tidak bisa dirubah, karena sudah berlalu. Anggapan ini seolah-olah benar, tetapi sesungguhnya itu hanya sekedar “seolah-olah” saja benar. Faktanya, masa lalu kita bisa dirubah dengan perspektif pemikiran yang berbeda dengan cara pandang yang digunakan oleh orang-orang yang beranggapan bahwa masa lalu tidak bisa dirubah.

Perhatikanlah bahwa “hari ini” akan menjadi “masa lalu” kita pada “hari esok”. Maka, sejatinya ada satu cara untuk merubah "masa lalu" kita menjadi lebih baik, yakni dengan memilih sikap istiqomah berbuat baik "hari ini", karena masa lalu kita sesungguhnya hanyalah kumpulan dari "hari ini" yang sudah kita lalui berulang-ulang. Al-Quran memberi isyarat kebenaran perspektif tersebut.


 إِنَّ الْحَسَنَـاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئـَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِيـنَ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS.Hud: 114) 
Perspektif di atas mengantarkan kita pada kesadaran bahwa, sesungguhnya cara “merubah masa lalu” kita sekaligus menjadi cara “mengukir masa depan” kita. Substansi ini yang saya pahami mengapa Al-Quran mengajak kita menatap “masa depan” dengan cara memperhatikan secara sungguh-sungguh apa yang “sudah” kita perbuat, bukan apa yang “akan” kita perbuat, yang berarti “masa lalu” kita di dunia adalah “masa depan” kita di akhirat.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۖوَاتَّقُوا اللَّهَۚإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)

Masa lalu (dalam hal ini masa lalu yang buruk ) boleh kita sesali, bahkan penyesalan itu menjadi keharusan dan sekaligus menjadi salah satu syarat pokok untuk bertaubat. Namun demikian, peluang kita “hari ini” tidak boleh dihabiskan untuk meratapi masa lalu, karena meratapi masa lalu tidak akan membuat kita menjadi lebih baik. Justru sebaliknya, mengisi “hari ini” dengan meratapi masa lalu akan semakin memperpanjang keburukan masa lalu kita. Yakinlah, sejatinya ada satu cara untuk merubah "masa lalu" kita menjadi lebih baik, yakni dengan memilih sikap istiqomah berbuat baik "hari ini", karena masa lalu kita sesungguhnya hanyalah kumpulan dari "hari ini" yang sudah kita lalui berulang-ulang. Camkan sungguh-sungguh bahwa, merubah cara pandang kita, akan merubah nasib kita.


 إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’d:11)

Sengaja saya memberi penanda warna kuning pada kalimat “apa yang ada pada diri” untuk menegaskan bahwa “cara pandang” seseorang itu adalah bagian penting dari “apa yang ada pada diri” seseorang. Dan itu ternyata yang harus dirubah jika ingin merubah nasib. Wallahua’lam.

0 Response to "Siapa Bilang Masa Lalu Kita Tidak Bisa Dirubah?"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.