Ya Allah Betapa Irinya Diriku Pada Dirinya


Semenjak dirinya mengetahui dan meyakini bahwa ilmu itu adalah cahaya, dia benar-benar makin mantap mengambil keputusan dalam hidupnya. Dia merubah haluan hidupnya, dari yang semula condong pada mencari kesenangan hidup, benar-benar berganti haluan menjadi mencari ketenangan hidup. Dia sudah membuktikan sendiri dari pengalaman-pengalaman masa lalunya, bahwa kesenangan hidup yang ia kejar selama ini, justru makin mendekatkannya pada banyak kerisauan hidup; dia mengejar kesenangan, tetapi di saat yang sama kesenangan itu lari menjauh dari dirinya; dia memburu sesuatu yang tidak kalah kencang berlari menjauh dari jangkauannya.

Lelah, risau, cemas, khawatir, was-was. Semua rasa itu bergelayut dalam pikirannya. Suatu ketika dia bercerita kepada beberapa rekannya kalau hatinya serasa seperti tercabik-cabik dan bahkan tak jarang terasa bagai disayat sembilu. Pedih, perih, merintih.Sesekali dia memang terlihat senyum dan juga tertawa, namun semua jauh dari tampilan senyum dan tawa yang natural. Semua tampak sangat artifisial; dibuat-buat.

Tibalah saatnya dia pada sebuah terminal kesadaran baru. Kesadaran yang mengantarkannya pada sebuah titik kulminasi keyakinan bahwa kesenangan itu adalah sebuah fatamorgana yang dari kejauhan disangka air, tetapi ketika didekati tak ada sesuatu apapun. Yang ada justru adalah gambaran fatamorgana baru di kejauhan sana.

Semenjak itulah dia memutuskan untuk berhenti mengejar kesenangan, dan membalik haluan hidupnya.

"Saat anda mengambil keputusan membalik haluan hidup, apa yang kemudian anda pikirkan?", tanya rekan dekatnya

"Tak ada yang saya pikirkan saat itu selain ingin menangis sejadi-jadinya, dan ternyata saya benar-benar menangis saat itu"

"Setelah itu?", tanya rekannya lagi

"Setelah itu saya kembali menangis lagi"

"Oh, tapi bukankah sebelum anda sampai di terminal kesadaran baru ini, anda sudah sering menangis?"

"Betul. Tangisan saya kala itu adalah tangisan yang menghimpit hati saya di lorong-lorong buntu kegelapan hidup. Sementara tangisan saya kali ini adalah tangisan di ruangan hati yang luas, jembar, diterangi seberkas cahaya yang tidak menyilaukan. Cahayanya teduh menenangkan hati"

Subhanallah. Masya Allah. Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

Dan ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. (QS. Ar-Ra'd: 28)

0 Response to "Ya Allah Betapa Irinya Diriku Pada Dirinya"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.