Rezeki & Kesalahpahaman yang Diwariskan

Rezeki bukan soal “siapa paling taat lalu paling kaya”, tetapi “siapa paling mampu menjaga amanah atas apa yang ia miliki”

Salah satu kesalahpahaman paling tua dalam perjalanan manusia adalah anggapan bahwa rezeki adalah ukuran cinta Tuhan, dan bahwa kelimpahan harta adalah tanda kedekatan dengan-Nya. Dari kesalahpahaman inilah lahir kegelisahan batin yang sering tak terucap: mengapa orang yang tampak jauh dari nilai-nilai agama hidupnya berlimpah, sementara mereka yang berusaha menjaga iman justru menjalani hidup yang sederhana, bahkan serba terbatas?

Pertanyaan di atas bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi persoalan cara pandang terhadap Tuhan.

Dalam Al-Qur’an, Allah tidak pernah menjanjikan bahwa iman akan selalu berbanding lurus dengan kekayaan, atau bahwa ibadah adalah tiket menuju kelimpahan materi. Yang dijanjikan justru sesuatu yang lebih halus, lebih dalam, dan sering kali luput dari ukuran dunia: keberkahan, ketenangan, dan keselamatan akhir.

Dunia Bukan Ruang Keadilan Akhir

Kesalahan mendasar dalam memahami rezeki terletak pada kekeliruan menempatkan fungsi dunia. Dunia bukan panggung penilaian akhir, melainkan ladang ujian. Ia bukan ruang distribusi keadilan terakhir, melainkan ruang di mana manusia diuji dengan berbagai kondisi yang tampak tidak seimbang.

Allah dengan tegas menunjukkan bahwa rezeki dibentangkan dan disempitkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Bukan semata-mata karena cinta atau murka, melainkan karena hikmah ujian. Kelimpahan bisa menjadi ujian yang lebih berat daripada kekurangan, sebab ia menuntut tanggung jawab moral, spiritual, dan sosial yang jauh lebih besar.

Maka, ketika seseorang diberi harta berlimpah, sejatinya ia sedang diuji: apakah kekayaan itu akan menumbuhkan syukur, atau justru melahirkan kesombongan? apakah ia menjadi jalan mendekat kepada Tuhan, atau tirai yang menutup mata hati?

Sebaliknya, ketika seseorang hidup dalam keterbatasan, ia pun sedang diuji: apakah kekurangan itu akan melahirkan kesabaran dan keteguhan, atau justru keputusasaan dan protes batin terhadap takdir?

Rezeki Tidak Pernah Tunggal Makna

Menyempitkan rezeki hanya pada harta adalah bentuk ketidakadilan manusia terhadap karunia Tuhan sendiri. Rezeki hadir dalam banyak rupa: kesehatan yang memungkinkan seseorang beribadah dengan tenang, keluarga yang menghadirkan rasa pulang, ilmu yang menuntun arah hidup, dan iman yang menjaga hati tetap jernih di tengah hiruk-pikuk dunia.

Banyak orang kaya harta, namun miskin ketenangan. Banyak yang berlimpah fasilitas, namun rapuh jiwanya. Sebaliknya, tidak sedikit yang hidup sederhana, tetapi hatinya lapang dan tidurnya nyenyak. Di titik inilah kita memahami bahwa rezeki sejati bukan apa yang kita genggam, tetapi apa yang menenangkan jiwa.

Iman tidak pernah diuji oleh sedikit atau banyaknya rezeki, melainkan oleh cara seseorang menyikapinya. Orang yang taat tetapi hidup sederhana bukan sedang ditinggalkan Tuhan, melainkan mungkin sedang dijaga. Dijaga dari kesibukan yang melalaikan, dari kecintaan berlebih pada dunia, atau dari ujian yang belum sanggup ia pikul.

Sementara mereka yang hidup berlimpah tidak otomatis berada dalam posisi aman. Bisa jadi mereka sedang berada dalam fase istidraj—kelimpahan yang terus mengalir, sementara jarak dengan Tuhan kian melebar tanpa disadari.

Karena itu, membandingkan rezeki dunia untuk menilai iman bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Ia menyesatkan logika spiritual dan merusak cara pandang terhadap keadilan Ilahi.

Pada akhirnya, rezeki bukanlah piala kemenangan yang dipamerkan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Sedikit atau banyak, semuanya akan ditanya. Dunia hanya menilai dari yang tampak, tetapi Allah menilai dari cara manusia menjaga, menggunakan, dan mensyukuri apa yang dititipkan kepadanya.

Maka, barangkali doa yang paling jujur bukanlah, “Ya Allah, berilah aku banyak,” melainkan, “Ya Allah, jadikan apa pun yang Engkau berikan cukup untuk mendekatkanku kepada-Mu.”

Karena di dunia ini, rezeki adalah ujian, dan di akhirat kelak, barulah keadilan disempurnakan. Dengan kata lain, jika dunia tampak tidak adil, itu karena ia bukan tempat keadilan terakhir. Di dunialah ujian dimulai, dan di akhiratlah kebenaran dan atau keadilan disempurnakan. Cuplikan ayat-ayat di bawah ini semoga menambah kekuatan keyakinan kita akan kebenaran hakekat rezeki. Baarokallahu fiikum.

1. Rezeki Dibentangkan dan Disempitkan sebagai Ujian

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِر

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya (bagi siapa yang Dia kehendaki).” (QS. Ar-Ra‘d: 26)

Ayat di atas menegaskan bahwa rezeki bukan indikator iman, melainkan bagian dari skenario ujian Ilahi.

2. Kekayaan dan Kemiskinan Sama-Sama Ujian

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Kebaikan (kelimpahan) dan keburukan (keterbatasan) sama-sama ujian, bukan vonis nilai diri di hadapan Allah.

3. Dunia Bukan Tempat Keadilan Akhir

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’ tanpa diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)

Dunia adalah ruang ujian iman, bukan ruang penuntasan keadilan.

4. Kekayaan Bisa Menjadi Istidraj (Ujian Tersembunyi)

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ

“Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan, Kami bukakan bagi mereka semua pintu (kenikmatan).” (QS. Al-An‘am: 44)

Kelimpahan tidak selalu berarti keselamatan; bisa jadi penangguhan ujian yang lebih berat.

5. Nilai Manusia Tidak Diukur dari Dunia

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Inilah fondasi ruh tentang rezeki: bukan apa yang dimiliki, tetapi bagaimana hati menyikapinya.

6. Keadilan Disempurnakan di Akhirat

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ

“Pada hari ini, setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah ia kerjakan.” (QS. Ghafir: 17)

Dunia adalah ladang, akhirat adalah panen.

Post a Comment for "Rezeki & Kesalahpahaman yang Diwariskan"