Merawat Akar, Menjaga Tauhid: Catatan Seorang Putra Sulawesi Tenggara tentang Mahkota Binokasih, Budaya Sunda, dan Kegelisahan Zaman Modern

Saya bukan orang Sunda. Saya lahir dan berasal dari Sulawesi Tenggara. Nama saya La Ode Ahmad. Namun lebih dari dua puluh lima tahun hidup di tanah Pasundan telah membuat saya memahami satu hal penting: sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung-gedung tinggi, atau angka pertumbuhan ekonomi. Sebuah daerah juga dibangun oleh ingatan kolektif, oleh kebudayaan, dan oleh penghormatan terhadap akar peradabannya sendiri.

Karena itulah saya memandang fenomena Mahkota Binokasih yang kembali digaungkan oleh Kang Dedi Mulyadi sebagai sesuatu yang menarik untuk direnungkan lebih dalam.

Terus terang, pada awalnya saya mengira Mahkota Binokasih hanyalah simbol budaya biasa yang diangkat dalam ruang-ruang seremonial. Namun semakin saya membaca sejarahnya dan memperhatikan bagaimana masyarakat Sunda merespons kirab budaya tersebut, saya mulai memahami bahwa yang sedang dibangkitkan sebenarnya bukan sekadar sebuah mahkota. Yang sedang disentuh adalah memori panjang tentang jati diri.

Di tengah dunia modern yang bergerak sangat cepat, manusia perlahan kehilangan akar. Kota-kota tumbuh semakin megah, teknologi berkembang luar biasa, tetapi sering kali jiwa masyarakatnya justru terasa asing terhadap sejarahnya sendiri. Anak-anak muda mengenal budaya luar dengan sangat baik, tetapi tidak lagi mengenali warisan leluhurnya. Dalam konteks itulah saya melihat upaya menghidupkan kembali simbol seperti Mahkota Binokasih menjadi sesuatu yang tidak bisa dipandang sederhana.

Sebagai orang luar Sunda, saya justru merasakan ada kekuatan emosional yang besar ketika melihat masyarakat begitu menghormati pusaka tersebut. Ada rasa memiliki terhadap sejarah. Ada kebanggaan terhadap identitas budaya. Dan ada kesadaran bahwa modernitas tidak boleh membuat manusia tercerabut dari akar tempat ia berasal.

Saya melihat Kang Dedi Mulyadi sedang mencoba membangun narasi bahwa pembangunan seharusnya tidak hanya menghasilkan gedung-gedung tinggi, tetapi juga melahirkan manusia yang mengenal siapa dirinya. Bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi tidak semestinya menghapus ingatan terhadap leluhur, nilai-nilai budaya, dan filosofi hidup yang diwariskan turun-temurun.

Tentu saja setiap fenomena publik selalu membuka ruang perdebatan. Ada yang mendukung dengan penuh semangat karena dianggap berhasil menghidupkan kembali kebanggaan budaya Sunda. Ada pula yang mengkritik karena dinilai terlalu simbolik atau terlalu romantis terhadap masa lalu kerajaan Sunda. Saya kira itu sesuatu yang wajar dalam masyarakat demokratis.

Namun di luar semua perdebatan itu, saya pribadi melihat ada satu hal yang sulit dibantah: Kang Dedi berhasil membuat sejarah Sunda kembali dibicarakan oleh generasi muda. Dan di zaman ketika perhatian publik sangat mudah terpecah oleh hiburan media sosial dan hiruk-pikuk politik praktis, kemampuan menghidupkan kembali kesadaran sejarah seperti itu bukanlah hal kecil.

Sebagai orang Sulawesi Tenggara yang lama tinggal di Jawa Barat, saya justru melihat masyarakat Sunda memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Dari bahasa, kesenian, filosofi hidup, hingga cara menghormati alam dan leluhur, semuanya menyimpan kedalaman nilai yang patut dijaga.

Namun kekaguman saya terhadap budaya Sunda sama sekali bukan berarti mengurangi kecintaan saya terhadap tanah kelahiran sendiri. Saya percaya bahwa setiap daerah di Indonesia sesungguhnya memiliki “Mahkota Binokasih”-nya masing-masing. Ada yang berupa pusaka kerajaan, ada yang hidup dalam adat istiadat, tarian, bahasa daerah, nilai kekeluargaan, ataupun cara masyarakat menjaga kehormatan leluhurnya.

Sulawesi Tenggara pun memiliki kekayaan peradaban yang besar. Tanah tempat saya dilahirkan menyimpan sejarah panjang tentang Kesultanan Buton, budaya maritim, nilai persaudaraan, dan kearifan adat yang diwariskan lintas generasi. Semua itu adalah akar yang juga harus dirawat dengan penuh penghormatan.

Justru dari tanah Pasundan saya belajar bahwa kebudayaan akan tetap hidup apabila masyarakatnya mau menjaga ingatan terhadap akar peradabannya sendiri. Dan mungkin itulah pelajaran terpenting yang bisa dipetik dari fenomena Mahkota Binokasih hari ini.

Namun di tengah kekaguman terhadap upaya pelestarian budaya tersebut, ada satu pertanyaan penting yang juga muncul di tengah masyarakat: bagaimana jika tradisi seperti kirab Mahkota Binokasih dianggap terlalu dekat dengan unsur syirik?

Menurut saya, pertanyaan itu tidak boleh langsung dianggap sebagai kebencian terhadap budaya. Itu adalah bentuk kehati-hatian akidah yang juga patut dihormati, terutama di tengah masyarakat Muslim.

Dalam ajaran Islam, syirik bukan terletak pada bendanya, tetapi pada keyakinan hati terhadap benda tersebut. Mahkota Binokasih pada dasarnya adalah artefak sejarah dan simbol budaya. Ia menjadi persoalan ketika sebuah benda diyakini memiliki kekuatan gaib mandiri, dijadikan tempat menggantungkan keselamatan, atau diperlakukan melampaui batas penghormatan budaya.

Jika sampai pada titik itu, maka kekhawatiran sebagian umat Islam tentu memiliki dasar yang serius.

Namun di sisi lain, ada pula masyarakat yang memandang kirab tersebut semata sebagai pelestarian sejarah, penghormatan terhadap warisan leluhur, dan simbol identitas budaya, tanpa keyakinan mistis apa pun.

Di sinilah letak garis pembatas yang sangat tipis: antara penghormatan budaya dan pengkultusan simbol.

Karena itu saya merasa pendekatan paling bijak bukanlah saling menyesatkan atau saling mencemooh. Yang diperlukan justru kedewasaan untuk menjaga dua hal sekaligus: menjaga akar budaya, tetapi juga menjaga kemurnian tauhid.

Sejarah Islam di Nusantara sebenarnya telah memberi banyak contoh tentang keseimbangan itu. Para ulama dahulu tidak selalu menghapus budaya lokal, tetapi menyaringnya dengan kebijaksanaan. Yang bertentangan dengan akidah ditinggalkan. Yang bisa menjadi sarana pendidikan, persatuan, dan identitas sosial dipertahankan.

Sebagai seorang Muslim, saya pribadi memandang bahwa kecintaan terhadap budaya tidak boleh melampaui kecintaan kepada Allah. Simbol budaya boleh dihormati sebagai bagian dari sejarah, tetapi tidak boleh diyakini memiliki kekuatan spiritual yang menyaingi kekuasaan-Nya.

Namun saya juga merasa kurang tepat jika seluruh ekspresi budaya langsung dicap syirik tanpa melihat niat dan keyakinan masyarakat yang terlibat di dalamnya. Karena bisa jadi sebagian besar orang hanya melihatnya sebagai penghormatan sejarah dan ekspresi kebudayaan.

Mungkin yang paling penting adalah menjaga kesadaran bersama bahwa warisan budaya adalah bagian dari identitas manusia, tetapi tauhid tetap harus menjadi pusat dari seluruh penghormatan itu.

Sebab budaya yang luhur seharusnya membuat manusia semakin bijak dan rendah hati, bukan semakin jauh dari Tuhannya.

Mahkota Binokasih mungkin memang hanya sebuah benda jika dilihat secara fisik. Namun bagi sebagian masyarakat Sunda, ia adalah simbol perjalanan panjang sebuah peradaban. Simbol tentang harga diri budaya. Simbol tentang ingatan bahwa tanah ini pernah memiliki nilai, kebijaksanaan, dan peradaban besar jauh sebelum modernitas hadir.

Dan mungkin di situlah letak pesan terdalamnya: bahwa manusia boleh melangkah sejauh apa pun, tetapi jangan sampai kehilangan akar tempat ia berpijak — dan jangan pula kehilangan Tuhan yang menjadi arah seluruh perjalanan hidupnya.

Post a Comment for "Merawat Akar, Menjaga Tauhid: Catatan Seorang Putra Sulawesi Tenggara tentang Mahkota Binokasih, Budaya Sunda, dan Kegelisahan Zaman Modern"