Pengalaman Getir Saya Berdialog dengan Pegawai BPJS


Karawang, 9 Oktober 2015. Pengalaman ini saya tulis dengan hati yang perih dan pilu seolah tersayat sembilu. Dua hari terakhir ini saya bersama Kabid (Kepala Bidang) Bina Kesehatan Masyarakat menerima kedatangan pegawai BPJS terkait rencana integrasi peserta Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) menjadi peserta JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Dari awal pembicaraan saya menangkap kesan yang sangat kuat bahwa petugas BPJS yang datang kala itu seperti tidak memiliki kepekaan yang memadai tentang karakteristik pokok peserta Jamkesda.

Beberapa kali saya katakan kepada mereka (petugas BPJS), bahwa yang kita bicarakan ini adalah orang-orang yang penuh dengan keterbatasan, orang-orang yang diuji oleh Tuhan dengan berbagai kekurangan, terutama kekurangan finansial. Tolong ini dipahami, kata saya berkali-kali.

Tanda-tanda ke arah miskin kepekaan itu mulai terlihat ketika petugas BPJS yang datang saat itu menyatakan bahwa data-data Jamkesda yang disampaikan kepada BPJS akan dibersihkan dulu oleh mereka sebelum diloloskan sebagai peserta JKN/BPJS. Saya langsung bertanya, “apa yang kalian maksud dengan istilah membersihkan data itu”

Menjawab pertanyaan tersebut, mereka lantas memberi contoh, “jika ada peserta Jamkesda yang pernah tercatat oleh system kami sebagai peserta BPJS Mandiri yang kami nonaktifkan karena tidak rutin membayar iuran, maka otomatis kami tidak akan integrasikan mereka, kecuali mereka menyelesaikan dulu seluruh tunggakan-tunggakannya”

Astagfirullah..... Setega itukah BPJS…?!! Mereka orang miskin loh…”

“Iya Dok, ini sudah aturan dari pusat”

“Kalau kalian menuntut penyelesaian tunggakan-tunggakan seperti itu pada peserta-peserta BPJS yang tidak tergolong miskin, saya maklumi itu, bahkan memang seharusnya begitu. Tapi….kalau pada peserta yang tergolong miskin, apa BPJS tega untuk tidak mengintegrasikan mereka dalam JKN/BPJS dengan iuran yang sudah disiapkan oleh pemerintah daerah, hanya karena riwayat tunggakan yang diluar kuasa mereka untuk membayarnya…?”

“Yaa…, bagaimana lagi, itu sudah aturan dari pusat Dok”

“Coba dong dikomunikasikan dengan pusat, saya yakin orang-orang BPJS pusat masih punya nurani. Saya yakin itu. Coba tolong ini dikomunikasikan dengan pusat, jangan sedikit-sedikit berapologi yg tidak bermutu seperti itu, sedikit-sedikit itu sudah aturan dari pusat.....itu sudah aturan dari pusat... Tolong sekali lagi, yang kita bicarakan ini orang miskin loh; orang yang terhimpit berbagai keterbatasan hidup. Hari ini kita masih diperkenankan Tuhan untuk bisa bicara, bisa berpikir, bisa menulis, bisa menandatangani berbagai dokumen, bisa menikmati banyak kemudahan hidup, yang artinya kita pun sedang diuji oleh Tuhan untuk membantu mencari jalan keluar problematika mereka-mereka yang diuji dengan berbagai keterbatasan itu.....tidak akan pernah ada solusi yang bisa membanggakan kemanusiaan kalau semua pintu ikhtiar ditutup rapat dengan kalimat-kalimat mati rasa seperti itu: ”itu sudah aturan dari pusat”

Masih ada petugas BPJS yang baik hati
Di luar pengalaman getir di atas, sejujurnya Alhamdulillah saya juga punya pengalaman menyenangkan dengan petugas-petugas BPJS. Untuk di Kabupaten Karawang, saya mengenal Pak Arif misalnya, atau Bu Ani dan beberapa lagi yang lainnya. Keberadaan pegawai BPJS seperti merekalah yang membuat saya masih tetap optimis bahwa BPJS ini masih bisa diharapkan kerjasamanya, empatinya, keberpihakannya, komitmennya, untuk secara bersama-sama mencari solusi-solusi alternatif persoalan-persoalan riil di lapangan terkait dengan kepesertaan JKN/BPJS ini, teristimewa peserta yang dikategorikan PBI (Penerima Bantuan Iuran).

Karena itu saya berharap, kepada para pegawai BPJS yang dalam catatan saya masih layak dibanggakan peran-peran publik mereka, pancarkanlah terus cahaya kebaikan kalian agar menerangi yang lainnya. Saya berharap, hak dasar terhadap kesehatan bagi semua insan, khususnya bagi para peserta PBI, tidak diperkosa dengan persyaratan-persyaratan administratif yang remeh temeh.

Banyak hal-hal getir yang ingin saya ungkapkan, tetapi terlalu sedikit yang bisa saya tulis. Dalam upaya untuk saling mengingatkan satu sama lain, saya sadar sepenuhnya, kita bukanlah malaikat, tetapi insya Allah kita juga bukan setan.....Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannashiir.... Silahkan di share artikel ini seluas-luasnya kalau ada manfaatnya untuk kemanusiaan….Semoga Allah senantiasa meridhoi segala ikhtiar kita. Aamiin.

2 Responses to "Pengalaman Getir Saya Berdialog dengan Pegawai BPJS"

  1. keep sounding dok...berkah dari ALLAH buat anda sekeluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Terima kasih Pak Andrey. Salam kenal. Keberkahan jg buat Pak Andrey sekeluarga ya

      Delete

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.