Mengenal Masjid Namirah Arafah

Masjid Namirah, Arafah
Inilah masjid yang dibuka hanya sekali dalam satu tahun, yakni setiap tanggal 9 Dzulhijjah saat semua jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Arafah untuk melaksanakan wukuf sebagai salah satu rukun haji. Masjid terbesar ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ini terletak di atas hamparan padang pasir Arafah, kurang lebih 22 kilometer arah timur Kota Mekah, memiliki luas total sebesar 110 ribu meter persegi dengan ukuran bangunan utama memanjang sejauh 340 meter, lebar 240 meter, dengan kapasitas daya tampung sebesar 350 ribu jamaah.

Masjid yang dikenal pula dengan sebutan Masjid Ibrahim atau Masjid Arafah ini memiliki tiga buah kubah besar, 74 pintu masuk, 10 diantaranya merupakan pintu masuk utama. Enam buah menara besar menjulang, masing-masing setinggi 60 meter melengkapi kemegahan masjid yang memiliki 1.000 kamar mandi dan 15 ribu tempat wudhu ini.

Fakta penting terkait Masjid Namirah saat ini adalah, tidak seluruh bagian dalam masjid ini masuk dalam zona sah wukuf, karena ada bagian dari masjid yang tidak termasuk Arafah sehingga tidak sah pelaksanaan wukuf jika dilakukan di zona tersebut. Dari papan notifikasi yang terpampang di masjid yang memiliki ratusan AC ini terlihat bahwa segmen depan masjid (bagian Timur) tidak masuk Arafah, sementara segmen belakang masjid (bagian Barat) termasuk bagian dari Arafah. Ini tanda yang sangat krusial untuk diperhatikan oleh para jamaah, karena sekali lagi tidak sah pelaksanaan wukuf jika dilakukan di luar kawasan Arafah. Papan-papan notifikasi serupa tersebar di kawasan Arafah sebagai penanda penting zona sah wukuf.

Papan Notifikasi Batas Arafah
Di Masjid Namirah, atau dimana saja yang masih menjadi bagian dari kawasan Arafah, pada hari pelaksanaan wukuf, sholat Dhuhur dan Ashar bagi jamaah haji dianjurkan untuk dilakukan secara jama’ dan qashar dua rakat – dua rakat dengan satu kali adzan dan dua kali qomat, sesuai dengan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW saat beliau melakukan haji Wada’ dan wukuf di Arafah.

Masjid Namirah dibangun oleh salah seorang khalifah dari Dinasti Abbasiyah sekitar abad kedua Hijriyah. Pemberian nama Masjid Namirah dihubungkan dengan lokasi masjid ini yang memang berada dekat dengan sebuah bukit kecil bernama bukit Namirah, tak jauh dari lokasi masjid tersebut berdiri. Usai pelaksanaan wukuf tanggal 9 Dzulhijjah, masjid inipun akan kembali ditutup, untuk dibuka kembali setahun kemudian. Selepas Maghrib tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah haji mulai bergerak meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit sebelum akhirnya merapat ke Mina untuk melontar jumrah. (Lihat juga visualisasi ini: Suatu Malam di Muzdalifah. Visualisasi "heroik" lainnya terkait suasana Jamarat di Mina bisa dilihat di tautan ini: Lautan Manusia di Jamarat)

0 Response to "Mengenal Masjid Namirah Arafah"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.