Posisi Saya dalam Dikotomi Fikih Puasa Arafah

Sampai sejauh ini, sumber-sumber terpercaya yang mampu saya telusuri terkait pelaksanaan Puasa Arafah, memperlihatkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Perbedaan tersebut lebih disebabkan oleh perbedaan acuan penafsiran, apakah rukyatul hilal di suatu wilayah berlaku universal, ataukah hanya berlaku regional mengikuti perbedaan mathla’ di tiap-tiap kawasan? (Pengertian Mathla’ bisa dibaca di tautan ini: Pengertian Mathla’)

Jika rukyatul hilal awal Dzulhijjah di suatu negeri, sehari setelah rukyatul hilal di Mekah umpamanya, maka Hari Arafah (9 Dzulhijjah) di negeri tersebut akan bertepatan dengan Hari Nahr (10 Dzulhijjah) di Mekah yang notabene merupakan salah satu hari yang dilarang berpuasa. Di kawasan lain dengan mathla’ yang berbeda bisa terjadi sebaliknya: rukyatul hilal Dzulhijjah sehari sebelum rukyatul hilal di Mekah, sehingga dengan sendirinya hari Arafah (9 Dzulhijjah) di kawasan tersebut akan bertepatan dengan Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) di Mekah yang notabene bukan hari pelaksanaan Wukuf di Arafah. Seperti diketahui, jamaah haji yang memilih melakukan ritual tarwiah, posisi mereka pada 8 Dzulhijjah itu adalah di Mina, bukan di Arafah. Jamaah Tarwiah baru bergerak menuju Arafah pada pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah setelah melaksanakan shalat subuh.

Dari fakta di atas, muncul dua pendapat yang berbeda terkait dengan momentum pelaksanaan Puasa Arafah. Pendapat Pertama, pelaksanaan Puasa Arafah mengikuti waktu pelaksanaan Wukuf di Arafah tanpa terpengaruh dengan perbedaan tanggal akibat perbedaan mathla’ di suatu wilayah. Pendapat ini mengambil sandaran fikih dari Komite Fatwa dan Riset Arab Saudi sebagai berikut:

يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم


Hari Arafah adalah hari dimana manusia melaksanakan Wukuf di Arafah. Puasa Arafah dianjurkan bagi orang yang tidak menunaikan ibadah haji. Karena itu, jika ingin menjalankan Puasa Arafah, maka berpuasalah di hari tersebut. (Fatawa Lajnah Daimah, No. 4052)

Pihak yang mendukung pendapat pertama berpegang teguh pada batasan bahwa Hari Arafah, hari yang sangat dianjurkan untuk menjalankan puasa Arafah bagi yang tidak menunaikan ibadah haji, adalah hari berkumpulnya jamaah haji di Arafah untuk melaksanakan Wukuf. Ini benar, tetapi saya melihat, gagasan inti pelaksanaan Puasa Arafah menurut pendapat pertama berfokus pada realitas Wukuf di Arafah, bukan pada realitas penanggalan yang secara faktual bervariasi mengikuti perbedaan mathla’. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat memudahkan seperti sekarang ini, menyuguhkan fakta bahwa momentum realitas wukuf bisa disaksikan secara realtime di belahan bumi manapun, dengan tempo akses nyaris tanpa perbedaan yang signifikan. Mengingat realitas wukuf di Arafah tidak akan pernah bisa tergantikan dengan wukuf di Tanah Abang misalnya, maka selama itu pula pelaksanaan Puasa Arafah tidak bisa dinisbatkan pada perbedaan-perbedaan waktu akibat perbedaan mathla’. Ini menurut pendapat pertama.

Pendapat Kedua, berpijak pada realitas penanggalan yang bervariasi mengikuti perbedaan mathla’. Meski berbeda dengan pendapat pertama, namun saya melihat bahwa kedua pendapat ini memiliki persamaan substansial yang kuat, yakni sama-sama mengakui bahwa tidak ada Hari Arafah di luar tanggal 9 Dzulhijjah. Hari Arafah selalu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Titik krusial kedua pendapat di atas adalah fakta bahwa tanggal 9 Dzulhijjah di belahan bumi manapun selalu ditetapkan sesuai kalender penanggalan yang juga mengacu pada penetapan hilal Dzulhijjah. Oleh karena itu, para pendukung pendapat kedua, berdiri kokoh pada keyakinan bahwa momentum pelaksanaan Puasa Arafah disesuaikan dengan realitas faktual tanggal 9 Dzulhijjah sesuai penetapan awal Dzulhijjah oleh otoritas resmi di suatu negeri atau kawasan, tanpa terpengaruh momentum realitas wukuf di Arafah, apalagi nomenklatur puasa tersebut bukan Puasa Wukuf, tetapi Puasa Arafah.

Para pendukung pendapat kedua, mengambil sandaran fikih dari pendapat sejumlah ulama, antara lain Ikrimah, Al-Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, Imam Malik, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnu Abbas. (Lihat Kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, 4/123).

Saya Ada di Posisi Mana?

Dengan segala keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya mohon izin untuk mengatakan bahwa kedua pendapat di atas ibarat dua tangkai bunga yang berbeda tetapi memiliki keindahan warna yang sama-sama mempesona. Perkenankan saya menegaskan, bahwa perbedaan penafsiran seputar momentum pelaksanaan Puasa Arafah adalah ranah fikih ijtihadiah yang hanya memiliki dua kemungkinan: jika benar, mendapat dua pahala; jika salah mendapat satu pahala. Subhanallah. Tidak ada kerugian hidup dalam wilayah perbedaan ijtihadiah, sepanjang ada persamaan pemahaman bahwa perbedaan itu adalah bagian dari khazanah Rahmat-Nya.

Sambil berupaya belajar memaklumi perbedaan pendapat, saya tegaskan bahwa saya pribadi memilih pendapat kedua, sambil menghormati para pendukung pendapat pertama. Puasa Arafah yang saya ikhtiarkan untuk bisa saya lakukan adalah Puasa di Hari Arafah yang waktunya mengikuti penetapan di negeri dimana saya berada. Jika pada saatnya nati saya tinggal di Madinah misalnya, sudah pasti tidak akan pernah saya mengalami perbedaan momentum Puasa Arafah dengan realitas Wukuf di Padang Arafah. Jika negeri di mana sekarang saya tinggal ada perbedaan dalam penetapan Hari Arafah (9 Dzulhijjah) karena landasan faktual perbedaan mathla’, maka saya yakin seyakin-yakinnya bahwa dari perbedaan tersebut bukan saya yang kemudian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan, tetapi pihak otoritas yang menetapkan penanggalan itu. Wallahua’lam.

0 Response to "Posisi Saya dalam Dikotomi Fikih Puasa Arafah"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.