Kemuliaan dalam Kesunyian Keikhlasan


Beberapa waktu yang lalu, saya menerima telepon dari dua orang yang sudah saya kenal. Pertama, dari seorang TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan). Kedua, dari seorang Kepala Puskesmas. Saya memilih untuk tidak menyebut identitas mereka. Selama ini, sesuai dengan takdir posisi dan tupoksi saya di Dinas Kesehatan, jika ada panggilan masuk ke ponsel saya dari TKSK, termasuk pula dari Kepala Puskesmas, hampir selalu menyangkut problematika pembiayaan kesehatan bagi masyarakat miskin atau masyarakat tidak mampu yang “kebetulan” tidak memiliki JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

“Maaf Pak Dokter, saat ini saya sedang berada di rumah ibu hamil yang harus segera di rujuk ke rumah sakit karena kondisi kritis terkait kehamilannya”, kata TKSK melalui percakapan HP saat itu.

“Oya, selalu koordinasikan dengan Bidan Desa dan/atau Puskesmas setempat agar tidak tertunda rujukan emergensinya”, jawab saya ketika itu.

“Siap Pak Dokter. Saya di lokasi saat ini bersama Ibu Bidan. Tapi maaf pasien ini ada kendala dengan dokumen-dokumen resmi kependudukannya Pak Dokter. Dia tidak memiliki KTP Karawang. Satu-satunya KTP yang dimiliki adalah KTP Tangerang, itupun juga sudah lama mati Pak Dokter”

“Wao, begitu ya… Sambil mempersiapkan rujukan emergensinya agar tidak terlambat, pastikan bisa langsung merapat juga ke Kepala Desa agar ada langkah-langkah cepat penyelesaian administrasi kependudukannya”, pinta saya.

“Siap Pak Dokter. Pasien ini sebenarnya orang Karawang Pak Dokter. KTP Tangerang yang pernah dimilikinya diperoleh saat mencoba mengadu nasib di Tangerang sebagai pekerja serabutan, bersama dengan suaminya yang orang asli Karawang. Setelah sang istri hamil, keluarga ini memutuskan untuk melahirkan di Karawang, sekaligus mereka akan menetap di sini, di Karawang Pak Dokter”

“Baik, sampaikan semua fakta itu ke Desa agar menjadi pertimbangan percepatan penyelesaian administrasi kependudukannya”, jawab saya.

Pasien hari itu akhirnya di rujuk ke RSUD Karawang. Kira-kira dua jam kemudian, saya menerima telepon dari Kepala Puskesmas yang satu kecamatan dengan TKSK yang menghubungi saya via telepon beberapa waktu sebelumnya. Kepala Puskesmas tersebut biasanya saya memanggilnya dengan sapaan Pak Haji. 

“Assalamu’alaikum Pak Dokter. Sudah sempat bicara dengan TKSK?”, tanya Pak Haji ke saya via telepon. 

“Wa’alaikumussalam wr.wb. Alhamdulillah Pak Haji sudah, sekitar dua jam yang lalu”

“Begini Pak Dokter. Ibu hamil yang dirujuk itu ternyata harus menjalani operasi sesar. Pasien menderita Pre-Eklamsia Berat dengan tanda-tanda gawat janin yang nyata. Dengan usia kehamilan yang sudah aterm, Dokter Obsgin RS memutuskan untuk dilakukan seksio. Seperti yang Pak Dokter ketahui, masalahnya saat ini bukan pada seksio. Masalahnya saat ini adalah pada pembiayaan. Keluarga ini benar-benar tidak punya apa-apa Pak Dokter. Boro-boro punya BPJS. KTP aja kagak punya. Dengan kondisi seperti ini, apakah memungkinkan pembiayaannya dari Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) Karawang Sehat, sementara dokumen-dokumen kependudukannya tidak ada?”

“Begini Pak Haji. Pemerintah Kabupaten Karawang sudah tidak diragukan lagi komitmennya dalam hal pembiayaan kesehatan bagi penduduk miskin yang tidak memiliki jaminan apapun, selama yang bersangkutan memiliki bukti-bukti formal kependudukan yang sah sebagai warga Kabupaten Karawang. Jika dokumen itu tidak ada, regulasi kita mengatur toleransi waktu selama tiga hari kerja untuk melengkapi persyaratan yang dibutuhkan, termasuk dokumen-dokumen kependudukan. Ingat, tiga hari kerja ya Pak Haji; hari Sabtu, hari libur atau tanggal merah tidak dihitung”

“Tapi saya agak pesimis Pak Dokter”

“Harus optimis Pak Haji”

“Maksud saya bukan pesimis menghadapi hidup Pak Dokter. Yang saya maksud adalah, apakah dokumen kependudukan untuk pasien atau keluarga ini bisa selesai dalam tempo tiga hari kerja, sementara masih harus ke Tangerang untuk mengurus surat pindah ke Karawang?”

“Komunikasikan dengan baik persoalan ini Pak Haji dengan aparat atau perangkat Desa, kalau perlu dengan Camat, dan yakinkan kepada mereka bahwa harus ada langkah nyata yang serius untuk mulai membantu mengurus dokumen kependudukan yang bersangkutan, tanpa perlu bertanya-tanya apakah bisa selesai dalam tempo tiga hari kerja atau tidak. Pada saat yang sama, yakinkan juga ke pihak manajemen rumah sakit bahwa pasien ini memang benar-benar tidak mampu. Selama kita maksimalkan ikhtiar, termasuk doa dan tawakkal, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa selalu ada kekuatan penolong yang bekerja dalam kebijaksanaan yang tidak harus selalu dalam jangkauan pikiran kita. Pikiran kita sangat terbatas, sementara kebijaksanaan-Nya tak terbatas”

“Masya Allah, baik Pak Dokter. Terima kasih. Mohon terus support-nya”

“Tentu Pak Haji”

Setelah komunikasi by phone itu, sepuluh hari berlalu tanpa ada kontak lagi antara saya dengan TKSK dan Kepala Puskesmas di atas. Harapan saya tentu semua baik-baik saja. Saat melayat di kediaman salah seorang Kepala Puskesmas yang meninggal dunia baru-baru ini, Kepala Puskesmas yang saya ceritakan di atas menghampiri saya, spontan kami saling bersalaman, dan tanpa melepas genggaman salaman itu, dia mengabarkan sekilas sebuah kejadian yang membuat saya sangat terharu.

“Pak Dokter masih ingat dengan pasien yang saya telepon beberapa waktu lalu?”

“Oh tentu saja Pak Haji”

“Masya Allah Dok. Semua biaya perawatan di Rumah Sakit, termasuk biaya sesar, ditanggulangi seluruhnya oleh seseorang. Bukan hanya pasien yang kami rujuk itu Dok yang dibiayai. Ada 6 orang pasien di bangsal yang sama, ternyata dilunasi seluruhnya juga oleh orang itu”

“Masya Allah. Siapa orang itu Pak Haji?”

“Sampai hari ini kami tidak tahu siapa orang itu Pak Dokter. Informasi yang kami dapatkan dari bagian keuangan rumah sakit, yang datang membayar ke kasir bukan orang itu Pak Dokter, dia mengutus orang lain. Orang yang berhati mulia itu berpesan kepada orang yang diutusnya agar tidak memberitahukan identitasnya kepada siapapun juga”

Masya Allah. Benar-benar kemuliaan dalam kesunyian keikhlasan; keikhlasan beramal tanpa liputan; keikhlasan beramal tanpa pencitraan; keikhlasan beramal tanpa pamrih ...

Genggaman saling bersalaman itu kami lepaskan, kemudian kami saling berpamitan. Masya Allah.

0 Response to "Kemuliaan dalam Kesunyian Keikhlasan"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.