Haji dan Kedalaman Makna Bilangan 7

Jika pelaksanaan haji terlepas dari ruh pemaknaan yang lebih mendasar, maka robotpun bisa melakukannya tiap tahun. Pelaksanaan haji yang tercerabut dari pemaknaan-pemaknaan mendasar akan menjadi bencana tersendiri dalam kehidupan beragama. Bukan sesuatu yang kebetulan, haji diposisikan sebagai rukun kelima dari Islam, bukan rukun pertama, kedua, ketiga ataupun keempat. Urutan tersebut mencerminkan sekuens tahapan perjalanan spiritual yang dari waktu ke waktu harus mencerminkan eskalasi yang bermakna atau signifikan, baik secara personal maupun secara sosial, dan ini semua mutlak ditopang kematangan spiritual.
Jemaah Haji Mandiri 2018 Kloter 21 JKS, Karawang, Jawa Barat, di Arafah sebelum Wukuf

Haji (yang di dalamnya meliputi umrah) tak terlepaskan dari fakta manasikal bilangan 7. Mulai dari Thawaf 7 kali putaran mengelilingi Ka'bah, Sa'i 7 kali bolak balik antara Bukit Safa dan Bukit Marwah, dan khusus Haji (di luar umrah) ada ritual 7 kali melontar jumrah. Balang jumrah ini bahkan 7 kali yang berulang-ulang. Tanggal 10 Dzulhijjah, yang dikenal juga dengan Hari Nahar, seluruh jemaah haji melontar Jumratul Aqobah sebanyak 7 kali lontaran. Disusul kemudian pada  Hari Tasyrik pertama 11 Dzulhijjah dan Hari Tasyrik kedua 12 Dzulhijjah, seluruh jemaah haji (baik yang mengambil Nafar Awal maupun Nafar Tsani) melontar jumrah 7 kali pada tiap Jumrah: Jumratul Ula 7 kali lontaran, Jumratul Wustha 7 kali lontaran, dan Jumratul Aqobah 7 kali lontaran. Bahkan, khusus jemaah haji yang mengambil Nafar Tsani, masih harus ditambah 7 lontaran lagi pada tiap Jumrah di hari Tasyrik ketiga 13 Dzulhijjah. Subhanallah.

Bapak-Bapak Jemaah Haji Mandiri 2018 Kloter 21 JKS, Karawang, Jawa Barat, di Arafah Pra Wukuf.
Makna apa gerangan yang terkandung dalam fakta manasikal haji dengan bilangan 7 itu? Wallahua'lam, hanya Allah  Yang Maha Tahu. Yang jelas, saya sangat yakin, haqqul yaqin, bahkan 'ainul yaqin, tidak ada sesuatu yang tidak memiliki makna dalam hidup ini, lebih-lebih yang berhubungan dengan puncak-puncak Rukun Islam: Haji. Allah menghendaki kita berpikir, bertafakkur tentang segala ciptaan-Nya, agar bisa mengambil banyak pelajaran berharga di dalamnya, termasuk pelajaran tentang eksitensi Allah dalam semua hal, bahwa segalanya ada karena Allah, segalanya adalah milik-Nya, dan segalanya akan kembali kepada-Nya, sehingga tidak ada yang layak disembah selain Dialah Allah semata.

Sebagian Jemaah Haji Mandiri 2018, Kloter 21 JKS, Karawang, Jawa Barat, di Lantai Teratas Jamarat, Mina.

Fakta bilangan 7 berulang itu, saya coba resapi ulang tatkala saya dan sejumlah Jemaah Haji Mandiri 2018 Kloter 21 JKS, Karawang, Jawa Barat, berkunjung ke Gua Hira yang berada di area puncak Jabal Nur, Makkah Al-Mukarramah. Sambil menunggu antrian masuk ke dalam Gua Hira, sesekali saya melepas pandangan ke arah Masjidil Haram yang berjarak sekitar 5 km. Subhanallah, amboi indahnya landscape Kota Makkah dari puncak Jabal Nur. Dalam hati, saya bergumam: mengapa wahyu pertama, Allah turunkan di Gua Hira, di area puncak sebuah gunung yang belakangan bernama Jabal Nur, mengapa tidak di area sekitar Ka'bah saja?

Sebagian Jemaah Haji Mandiri 2018, Kloter 21 JKS, pasca lontar Jumrah di hari Tasyrik pertama, 11 Dzulhijjah

Di atas ketinggian Jabal Nur itu saya seperti terpesona dengan sebuah makna yang terbetik dalam benak saya, bahwa ketinggian Jabal Nur seperti mewakili sebuah makna metaforis ketinggian maqom spiritual. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira. Untuk sampai di Gua Hira, Baginda Rasulullah SAW harus menapaki selangkah demi selangkah jalan menanjak yang cukup terjal dari sebuah gunung tempat beliau sering bertahannuts atau bertafakkur: Jabal Nur. Maka puncak Gunung Cahaya ini seolah menjadi representasi maknawiah dari puncak ketinggian, puncak kematangan, dan sekaligus puncak kebersihan spiritual. Di tataran maqom spiritual seperti itulah Kalam Ilahi Al-Quranul Karim pantas diturunkan, dan sekaligus pantas bersemayam di dalam Qolbu hamba-hamba-Nya yang terpilih. Di atas ketinggian gunung, pandangan kita tidak hanya menjadi luas, tapi juga sekaligus segalanya menjadi tampak indah mempesona. Subhanallah, Masya Allah, akan seperti itu pula keadaannya dari puncak ketinggian spiritualitas.

Panorama menawan Kota Makkah dari ketinggian Jabal Nur

Sekarang, mari kita selesaikan fakta maknawiah di balik bilangan 7 berulang dalam Haji. Dalam hidup ini, sesungguhnya kita ada dalam pusaran waktu 7 hari yang berulang: Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu. Nama-nama hari tersebut, seluruhnya adalah serapan dari Bahasa Arab: Ahad, Itsnain, Tsalatsa, Arba'a, Khamsah, Jumu'ah, Sabt. Kalender Bulanan maupun Tahunan, tetap hanya berisi  deretan 7 hari yang berulang-ulang. Di sisi lain, titik krusial syariat haji (dan seluruh peribadatan lainnya) ada dalam kekuatan simpul tunggal kemurnian akidah: Hanya kepada Allah saja, sebagaimana penegasan berikut:

وَأَتِمُّواْ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّهِ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. (QS. Al Baqarah: 196).

Dengan konstruksi wacana seperti di atas, maka fakta manasikal 7 bilangan berulang dalam haji, sejatinya menampilkan kristalisasi pemaknaan paling elementer, dan sekaligus penegasan secara afirmatif bahwa dalam hidup ini, yang hanya terdiri dari siklus 7 hari, kita tidak boleh keluar dari pusaran ketundukan, kepatuhan, atau ketaatan hanya kepada Allah saja. Niat dan aktualisasi Haji (dan juga ibadah lainnya) tak boleh dikotori dengan motif-motif apapun yang akan memalingkan kita dari esensi paling pokok tersebut, yakni ketundukan total hanya kepada Allah semata. Ketika ketundukan total tersebut simbolisasinya adalah sujud, maka masih dalam spektrum pemaknaan bilangan 7, kita terkesima dengan kenyataan bahwa sujud yang sempurna secara fisik adalah ketika 7 bagian dari anggota badan ini menempel pada bumi, yaitu lutut kiri dan kanan (2), telapak tangan kiri dan kanan (2), ujung kaki kiri dan kanan (2), dan dahi (1). Seluruhnya ada 7 bagian anggota badan. Dan, tatkala "Sujud" menjadi makna sentral dari "Shalat", dan tidak ada Shalat tanpa Al-Fatihah, maka kita semakin takjub lagi, karena Al-Fatihah yang notabene merupakan Ummul Kitab atau Ummul Quran itu,  pada kenyataannya adalah As-Sab'ul Matsani (7 Ayat yang diulang). Tiap rakaat, 7 Ayat itu selalu dibaca kembali. Tanpanya, tidak ada shalat. 

Dengan pemaknaan seperti di atas, maka tidak berlebihan kalau saya simpulkan bahwa fakta manasikal bilangan 7 dalam ritual Haji, sejatinya adalah isyarat paling inti dari substansi ruhiyah misi kehidupan kita. Dan itu semua senapas dengan penegasan Allah berikut ini:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Az-Zariyat: 56)

Akhirnya, banyak hal yang ingin saya katakan, tapi sedikit yang bisa saya tulis. Wallahua'lam. (La Ode Ahmad, Karom V, Jemaah Haji Mandiri 2018, Kloter 21 JKS, Karawang, Jawa Barat).

0 Response to "Haji dan Kedalaman Makna Bilangan 7"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.