Nyiapin akhir tahun bukan main, nyiapin akhir hayat main-main.
Ada banyak hal dalam hidup yang kita siapkan dengan penuh kesungguhan. Akhir tahun adalah salah satunya. Kita menghitung hari, menimbang pencapaian, lalu menyusun resolusi dengan harapan hidup akan berjalan lebih baik. Namun di balik kesibukan itu, ada satu perjalanan yang jarang benar-benar kita siapkan: kepulangan abadi. Ia tidak datang dengan pengumuman, tidak menunggu kesiapan, dan tidak peduli seberapa rapi rencana kita. Di sanalah hidup menguji kejujuran kita—apakah kita sungguh sedang memperbaiki diri, atau sekadar menenangkan hati dengan rencana-rencana.
Kalimat dalam kutipan di awal tulisan ini sederhana, bahkan terdengar seperti guyonan. Tapi justru di situlah daya pukulnya. Ia memantul ke dalam diri, mengetuk kesadaran yang sering kita biarkan tertidur terlalu lama.
Setiap menjelang akhir tahun, kita mendadak menjadi manusia paling terorganisir. Kalender disisir, resolusi disusun, target dipoles agar tampak ambisius. Kita sibuk menilai capaian, menghitung angka, merancang rencana baru. Seolah hidup ini bisa dipastikan ulang hanya dengan menutup satu lembar tahun dan membuka lembar berikutnya.
Ironisnya, di saat yang sama, akhir hayat—yang kepastiannya jauh lebih absolut—justru kita perlakukan dengan santai. Tanpa persiapan serius. Tanpa kegelisahan yang cukup. Tanpa kesadaran bahwa ia bisa datang bahkan sebelum kalender berganti.
Kita menyiapkan pesta pergantian tahun, tetapi lupa menyiapkan bekal kepulangan. Kita menata karier, tetapi abai menata amal. Kita cemas jika target dunia belum tercapai, namun jarang benar-benar cemas apakah hati kita sudah cukup layak menghadap Tuhan.
Padahal, akhir tahun hanyalah kesepakatan manusia. Ia bisa ditunda, diulang, diperbaiki. Sedangkan akhir hayat tidak pernah bernegosiasi. Ia datang tanpa pemberitahuan, tanpa kompromi, tanpa memberi ruang untuk “nanti saja”.
Betapa sering kita berkata, "Nanti kalau sudah tua, aku akan lebih serius beribadah”, “Nanti kalau sudah longgar, aku akan lebih banyak berbagi”, “Nanti kalau sudah tenang, aku akan memperbaiki diri”
Celakanya, kita lupa bahwa kata *nanti* tidak pernah dijanjikan.
Akhir hayat bukan soal kapan, tetapi soal kesiapan. Dan kesiapan itu tidak dibangun dalam sehari, apalagi di detik-detik terakhir. Ia adalah hasil dari kebiasaan kecil yang konsisten: kejujuran yang dipelihara, kesombongan yang dilawan, amarah yang ditahan, doa yang tidak ditinggalkan meski hati sedang kering.
Kematian bukan tragedi bagi orang yang siap. Ia justru tragedi bagi mereka yang terlalu sibuk menunda.
Mungkin inilah saatnya kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: Jika malam ini adalah akhir, apakah hidupku sudah cukup rapi untuk ditutup? Jika hari ini adalah yang terakhir, apakah ada luka yang belum aku minta maaf? Apakah ada hak orang lain yang masih aku simpan diam-diam? Apakah ada doa yang terlalu sering aku abaikan karena merasa masih punya waktu?
Refleksi ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan. Bahwa hidup bukan sekadar tentang bagaimana kita memulai tahun, tetapi bagaimana kita menutup kehidupan—dengan wajah yang tenang, hati yang lapang, dan harapan bahwa Tuhan menyambut kita dengan rahmat, bukan penyesalan.
Maka, jika kita mampu begitu serius menyiapkan akhir tahun, seharusnya kita lebih sungguh-sungguh lagi menyiapkan akhir hayat.
Dan pada akhirnya, yang benar-benar kita butuhkan bukan resolusi tahunan, melainkan kesiapan pulang.

Post a Comment for "Antara Resolusi Tahunan dan Kepulangan Abadi"
Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.