BPJS, Rumah Sakit, dan Pelajaran Berharga Untuk Kita Semua



Rabu Pagi 19 Agustus 2015, kurang lebih pukul 09.00 WIB saya kedatangan tiga orang lelaki. Tak satupun dari mereka bertiga yang saya kenal. Sesaat sebelum mereka datang, Asisten Kepala Dinas Kesehatan menemui saya dan mengabarkan bahwa ada tamu yang ingin segera menghadap ke saya saat itu juga.

“Ooh … hampir pasti ini masalah serius”, bisikku dalam hati. Tanpa bertanya lebih lanjut lagi siapa atau dari mana mereka, saya mengiyakan permintaan untuk menemui saya itu.

Dan…sesaat kemudian datanglah mereka. Kuajak masuk ke ruang kerja, kupersilahkan mereka duduk, dan langsung aku bertanya. Tapi, aku tidak bertanya dari mana mereka, karena kuyakin tak mungkin mereka datang dari planet Mars misalnya, atau Yupiter, apalagi Pluto…hehehe. Aku juga tidak mengajak mereka berkenalan dulu atau saling memperkenalkan diri di antara saya dan mereka, karena kuyakin kami semua sepakat mengakui berasal dari diri yang satu, punya nenek moyang awal yang sama. Pertanyaan yang kuajukan pertama kali kepada mereka adalah, “Masalah apa yang bisa kita diskusikan bersama ?”

Saling memperkenalkan diri memang penting, bahkan sangat penting. Tapi, terkadang kita berhenti pada pengenalan nama dan ciri-ciri fisik tertentu saja. Mengenal masalah mereka, mengenal cara berpikir mereka, atau mengenal problematika kehidupan mereka, terkadang semua itu  luput dari perhatian. Jadilah perkenalan itu sebatas basa-basi di tataran superfisial, terombang-ambing sebatas pengenalan asesoris-asesoris fisik yang terkadang (atau malah mungkin sering) imitatif dan penuh dengan kepalsuan.

(Kembali ke laptop). Ketika aku bertanya, “masalah apa yang bisa kita diskusikan bersama ?”, mereka serta merta menyodorkan kepada saya secarik kertas yang penuh dengan tulisan. Kupegang dan kutatap kertas itu. Belum tuntas aku membacanya, salah seorang dari mereka menunjuk-nunjuk ke angka tertentu di kertas tersebut sambil bertanya seperti orang yang sedang marah: “Dari mana kami bisa membayar tagihan rumah sakit sebanyak ini Pak Dokter?”

“Ooh...Tenang…tenang… Tenang dulu Pak”, sahut saya. “Aku mengerti kalian seperti sedang marah ke Rumah Sakit yang mengeluarkan billing ini. Aku maklumi itu, tapi tolonglah bercerita dulu seperti apa awalnya ini semua?”

“Ini pasien kan peserta BPJS Dok. Iuran bayar terus. Sudah setahun ini tercatat sebagai peserta belum pernah nunggak. Ini Kartu BPJS-nya. Kok masih ada pembayaran lagi seperti ini? Bagaimana ini Pak Dokter. Program pemerintah ini serius ga sih…?”

“Apa yang dikatakan oleh pihak Rumah Sakit saat menyerahkan billing ini kepada kalian bertiga?”, tanyaku cepat-cepat

“Petugas rumah sakit bilang kalau yang ditanggung oleh BPJS untuk kasus pasien ini hanya 3,3 juta-an. Sementara total pembiayaan seperti yang Pak Dokter lihat di daftar tagihan itu sebesar 23-an juta. Dari mana kami bisa membayar 20-an juta lagi Pak Dokter…”

Wah, relung-relung hatiku serasa meletup-letup. Kuyakinkan diriku, bahwa kerumitan ini hampir pasti berawal dari komunikasi yang minim. Ya, komunikasi. Kucoba bertanya lagi, “apa yang dikatakan pihak Rumah Sakit saat pasien ini masuk atau datang pertama kali?”

“Saat itu petugas rumah sakit bilang bahwa ruang perawatan yang sesuai dengan kelas kepesertaan pasien ini penuh. Yang ada tinggal ruang VVIP saja”

“Terus, apa tanggapan keluarga saat itu?”

“Ya kami menyetujui saja, yang penting bisa langsung dirawat, Pak Dokter”

“Penjelasan apa yang disampaikan Rumah Sakit saat keluarga sepakat naik kelas perawatan itu…”

“Tidak ada penjelasan apapun Pak Dokter”

“Ah yang benar… Bisa jadi petugas Rumah Sakit sudah menjelaskan banyak hal tetapi keluarga lupa atau tidak memperhatikan apa yang disampaikan”

“Ya, mungkin juga sih Pak Dokter. Tapi karena saat itu kami benar-benar lebih fokus pada kondisi pasien yang notabene adalah ibu kandung kami sendiri, kami hanya berpikir bagaimana agar bisa ditangani atau dirawat secepatnya”

“Oke. Apa yang keluarga pahami sehubungan dengan pindah kelas ini…”

“Yang kami tahu, ada kewajiban untuk membayar selisih biaya karena kenaikan kelas rawat itu, tapi sebatas biaya kamar/ruangan saja”

“Kenyataannya…?”

“Kenyataannya ya biaya kamar, ya biaya-biaya lainnya juga”
***
Sampai di titik ini saya ingin menegaskan bahwa persoalan di atas sesungguhnya berawal dari minimnya komunikasi, terutama dari pihak Rumah Sakit kepada pihak pasien dan/atau keluarganya. Situasi seperti ini tentu saja diperparah lagi dengan kurangnya sosialisasi sejumlah regulasi yang berkaitan dengan persoalan seperti di atas. (Dalam artikel ini sengaja nama Rumah Sakit (salah satu Rumah Sakit Swasta) tidak saya sebutkan, meskipun datanya sudah ada di tangan saya)

Sangat bijak saya kira jika pihak Rumah Sakit membuat semacam Maklumat Pelayanan, dimana dalam konteks ini, adalah Maklumat Pelayanan yang terkait secara langsung dengan regulasi yang berhubungan dengan kasus pindah kelas perawatan seperti ini.

Kasus di atas tidak akan pernah terjadi kalau saja pasien-pasien kita telah mengetahui (atau diberi tahu) ketentuan-kententuan sebagaimana yang  termaktub dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional. Lebih jelasnya lihat atau klik Inilah Ketentuan Terkait Peningkatan Kelas Perawatan Pasien BPJS.

0 Response to "BPJS, Rumah Sakit, dan Pelajaran Berharga Untuk Kita Semua"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.