Tahun Baru Masehi, Basa Basi Kultural dan Perangkap Akidah


Tahun Baru Masehi, sesuai dengan nama yang melekat di dalamnya, adalah siklus kalender tahunan yang sejarah penamaannya terkait secara langsung dengan persepsi kelahiran salah satu sosok manusia pilihan Allah, yakni Isa alaihissalam. Dalam akidah yang saya anut, atau dalam keyakinan yang sedang dan akan terus saya pegang teguh sampai kapanpun, Muslim, Isa as adalah salah satu Nabi dan/atau Rasul Allah yang masuk dalam kategori Ulul Azmi, di samping Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, dan Nabi Nuh as. Predikat Ulul Azmi (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) yang melekat dalam diri Nabi Isa as dan ke-4 nabi/rasul lainnya diberikan karena dalam sejarah dakwah, mereka semua terbukti memiliki keteguhan hati yang sangat mengagumkan, memiliki kesabaran tanpa batas, atau memiliki ketabahan yang luar biasa, meskipun secara nyata-nyata mereka mendapatkan berbagai jenis cobaan, perlawanan, teror, cacian, celaan, hinaan, atau tantangan yang menyakitkan dalam menyampaikan misi dakwah. Ulul Azmi, adalah predikat sangat istimewa yang diberikan oleh Allah dan sekaligus diabadikan dalam Kitab Suci yang (akan selalu) terjaga kemurniannya, Al-Quran:

 فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُون 

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (QS. Al-Ahqof: 35)

Kelima Nabi/Rasul yang termasuk Ulul Azmi itu ditegaskan dalam ayat berikut:

 شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ 

Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah membimbing kepada agama itu bagi yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama-Nya) bagi orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. Asy-Syura: 13)

Sampai di titik ini, saya ingin menggarisbawahi bahwa, Islam tidak pernah menafikan sedikitpun eksistensi Nabi Isa as, sebagaimana pula nabi-nabi atau rasul-rasul lainnya teristimewa Baginda Rasulillah Muhammad SAW. Apa yang dikatakan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ahok, sebagaimana dikutip banyak media belum lama ini, bahwa Nabi Muhammad (SAW) sepanjang hayatnya tidak pernah menjelek-jelekkan Nabi Isa, harus kita pertegas lagi bahwa sampai saat inipun (dan sampai kapanpun) semua pengikut risalah yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW tidak ada dan tidak akan pernah ada satupun yang menjelek-jelekkan Nabi Isa as. Ahok belum menyadari bahwa keyakinan terhadap eksistensi seluruh Nabi atau Rasul Allah adalah bagian tak terpisahkan dari keutuhan Struktur Iman (Arkanul Iman) seorang Muslim. Islam hanya mengingkari “Nabi atau Rasul jadi-jadian” yang sempat marak belakangan ini; dimana seseorang sekonyong-konyong memproklamirkan diri sebagai nabi atau rasul, lengkap dengan berbagai penyelewengan akidah maupun syariah yang aneh-aneh. “Nabi” palsu!!!

Baca juga:
Ketika Tulisan Saya Tentang Tahun Baru Masehi Ditanggapi

Apa yang terjadi dengan Tahun Baru Masehi?
Istilah Masehi, tidak merujuk ke makna maupun sosok lain selain Nabi Isa as. Dalam bahasa Arab, istilah Masehi identik dengan Al-Masih, sehingga sebutan lain untuk Nabi Isa as adalah Isa Al-Masih. Tahun Baru Masehi sebenarnya adalah bagian dari siklus kalender yang berbasis Syamsiah, perputaran bumi mengelilingi matahari alias revolusi bumi. Seperti halnya kalender berbasis Qomariah, yang didasarkan pada rotasi bulan, tidak ada yang salah dengan penanggalan berbasis Syamsiah.

Bagi komunitas Muslim, substansi krusial dalam kalender Samsiyyah bukan pada aspek presisi kalkulasi penanggalannya, melainkan pada aspek hubungan atau relasi penetapannya dengan ritual Natal bagi komunitas Kristiani. Dalam sejarah, penyebutan Tahun Baru Masehi, didasarkan pada tahun kelahiran Isa Al-Masih. Satuan penanggalan sebelum kelahiran Isa Al-Masih teridentifikasi dengan istilah SM (Sebelum Masehi). Perhatikanlah bahwa tanggal 25 Desember yang selama ini dipersepsikan sebagai hari kelahiran (Natal) Isa Al-Masih, memiliki hubungan terminologis, hubungan semantik, dan sekaligus hubungan historis dengan tradisi perayaan Tahun Baru Masehi (Al-Masih). Di titik inilah sesungguhnya letak simpul potensi problematik nomenklatur “Tahun Baru Masehi” dengan akidah kaum Muslimin.

Sejatinya, bagi komunitas Muslim yang masih ingin tetap menjaga kemurnian akidahnya, konstruksi pemaknaan terhadap eksistensi Isa Al-Masih tidak akan pernah berubah dari pengertian awal yang sudah diabadikan dalam Al-Quran, bahwa Isa as adalah putra Maryam yang diciptakan secara khusus melalui kekuasaan Allah yang Maha Mutlak, tanpa sentuhan Ayah biologis dan bahkan tanpa harus melalui fase-fase embriologis konvensional. Dan itu sangat-sangat mudah bagi Allah, semudah menciptakan Adam dari tanah, semudah menciptakan Hawa dari unsur osteologis Adam, atau bahkan semudah meniadakan apapun yang pernah diadakan-Nya dengan kalimat atau kekuasaan-Nya (Kun Fayakun).

Masih dalam konteks di atas, Isa Al-Masih adalah pembawa konstitusi risalah tauhid untuk Bani Israil kala itu. Dan, ketika generasi kenabian dan/atau kerasulan telah ditutup rapat-rapat sampai dengan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, maka tongkat estafet risalah tauhid yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya, berpindah ke tangan Rasulullah Muhammad SAW, yang kemudian akan terus di kawal oleh ummatnya hingga akhir zaman; suatu masa yang akan ditandai dengan turunnya Isa Al-Masih yang akan ikut memberikan kesaksian terhadap kebenaran ajaran tauhid yang pernah didakwahkan kepada kaumnya.

Alhamdulillah, sahabat-sahabat saya yang Non Muslim sudah faham betul mengapa saya tidak pernah mengucapkan Selamat Natal, atau Selamat Natal dan Tahun Baru (Masehi). Mereka sudah benar-benar memahami bahwa keengganan saya untuk memberikan ucapan tersebut, sama sekali bukan bentuk pengingkaran saya terhadap eksistensi Isa Al-Masih, bukan bentuk penyangkalan saya terhadap norma persahabatan, juga bukan bentuk penolakan saya terhadap kalender atau penanggalan berbasis Syamsiah, tetapi semata-mata karena perbedaan persepsi dan konstruksi pemaknaan terhadap eksistensi Isa Al-Masih itu sendiri. Ibarat menyusuri jalan, saya dan sahabat-sahabat saya yang non muslim berada di persimpangan, lalu dengan damai kami memilih meneruskan perjalanan sendiri-sendiri dengan mengambil pilihan jalur yang berbeda arah. Saya menyusuri arah Tauhid, sementara kawan-kawan saya yang non muslim memilih arah Trinitas. Persimpangan konseptual akidah inilah yang membuat saya memilih (dan sekaligus berharap dimaklumi) untuk tidak memberikan ucapan-ucapan berdimensi teologis di atas kepada sesama insan yang berbeda preferensi ketuhanan. Perhatikan dan saksikanlah bahwa sikap personal saya seperti ini bertumpu sepenuhnya pada motif luhur untuk mempertahankan originalitas masing-masing keyakinan, agar diantara beragam keyakinan yang ada satu sama lain tidak campur aduk.

Basa-Basi Kultural
Kawan-kawan saya yang Non Muslim, Alhamdulillah sudah memahami sebagian profil saya sebagai seorang (yang sedang belajar dan berusaha menjadi) Muslim yang tidak akan pernah menganggap Selamat Natal, atau Selamat Natal dan Tahun Baru (Masehi) sebagai ungkapan persahabatan, atau sebagai basa-basi kultural, karena ungkapan tersebut 100% berada dalam spektrum internal Akidah. Betul bahwa toleransi harus kita hidupkan, tetapi jangan sampai lupa bahwa toleransi hanya ada dalam domain Muamalah, bukan Akidah. Domain Akidah harus tetap murni semurni-murninya, sementara domain Muamalah adalah wilayah persahabatan dan pergaulan kemanusiaan (termasuk toleransi) yang meniscayakan pengembangan seluas-luasnya, lintas agama, lintas etnis, lintas kultural, lintas geografis dan bahkan lintas zaman.

Di situlah indahnya Islam yang telah mengatur segalanya pada posisi dan kedudukan yang semestinya; sebuah keindahan yang secara historis telah diabadikan dengan tinta emas sejarah, antara lain keindahan peradaban multi etnis dan Agama di Madinah Al-Munawwarah di bawah Kepemimpinan langsung Rasulullah Muhammad SAW kala itu.

Dengan paradigma seperti di atas, maka bagi Muslim, mengucapkan Selamat Natal, atau Selamat Natal dan Tahun Baru (Masehi), dalam keyakinan saya, sama sekali bukan cermin kekuatan pergaulan, sebaliknya ucapan itu justru menjadi cermin kelemahan Akidah. Sekali lagi, cermin dan dimensi kekuatan pergaulan serta toleransi di dunia yang multi dimensi (agama, etnis, kultur, geografis) harus tumbuh dan berkembang di wilayah Muamalah, sementara Akidah adalah wilayah spesial yang harus selalu dijaga kemurniannya. Stroberry harus tetap dipertahankan sebagai buah dengan rasa Stroberry. Terasi harus tetap dipertahankan sebagai bumbu masakan dengan rasa terasi. Jika tidak, kita akan kesulitan menikmati sambal terasi yang original, manakala semua terasi telah dirubah menjadi rasa stroberry. Atau, kita akan kesulitan menikmati Donat rasa stroberry, jika semua stroberry sudah dirubah menjadi rasa terasi. Analogi ini saya buat untuk menguatkan keyakinan saya bahwa dalam kehidupan ini ada entitas-entitas yang memang harus kita jaga originalitasnya, dan di sisi lain ada pula yang membutuhkan adaptasi-adaptasi, penyesuaian-penyesuaian, toleransi dan lain sebagainya; dan itulah wilayah muamalah; wilayah interaksi kemanusiaan multikultural yang dalam konteks Indonesia diterjemahkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Perangkap Akidah
Batasan-batasan di atas (Akidah dan Muamalah) sangat dipentingkan dalam Islam agar ummatnya tidak terjerumus dalam berbagai bentuk perangkap akidah yang memang ada di mana-mana. Perangkap-perangkap akidah itu bisa bergerak sehalus gerakan semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap gulita, apalagi kalau yang menyaksikannya menggunakan kaca mata hitam. Dengan perangkap akidah, kita bisa masuk dalam wilayah kemusyrikan tanpa menyadarinya.

Salah satu perangkap akidah yang diperingatkan oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah Tasyabbuh (meniru-niru tradisi atau pola hidup suatu kaum). Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah bersabda:

 عن ابن عمر – رضي الله عنهما – قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: من تشبه بقوم فهو منهم أخرجه أبو داود وصححه ابن حبان 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam bersabda:”Barang siapa yang meniru-niru pola hidup suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Rentetan logis dari Tasyabbuh sudah diperingatkan pula oleh Rasulullah Muhammad SAW 1500 tahun yang lalu. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim kita jumpai hadits dari Abu Said al Khudri dari Rasulullah SAW:

 لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ 

Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lobang biawakpun tentu kalian akan mengikutinya.

Cukup sudah artikel singkat ini saya tutup dengan sebuah kesimpulan final yang mencerminkan sikap personal saya terhadap domain Akidah dan Muamalah dalam kehidupan multikultural ini, bahwa sampai mati saya akan (berupaya) berpegang teguh pada Islam, dan sampai mati juga saya tidak akan pernah mengganggu para penganut keyakinan yang lain, yang berbeda dengan saya, apalagi hal terakhir itu secara spesifik telah ditegaskan dalam Al-Quran:

 وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ 

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah (QS. Al-An’am: 108). Wallahua’lam. Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannashiir. (Untuk yang belum, jangan lewatkan juga artikel saya di link atau tautan ini ya: Kondom dan Eskalasi Kebejatan Moral di Tahun Baru dan Valentine's Day)

0 Response to "Tahun Baru Masehi, Basa Basi Kultural dan Perangkap Akidah"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.