Masjid Raya Bukit Indah dan Barometer Seluruh Amal Ibadah

Qodarullah. Jumat, 20 April 2018 saya Jumatan di Masjid Raya Bukit Indah, Purwakarta, Jawa Barat. Masjid ini terletak di Kawasan Industri BIC (Bukit Indah City), Purwakarta. Tidak sedikit yang keliru menyangka kalau kawasan tersebut masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Karawang, apalagi salah satu Pintu Toll paling dekat dengan kawasan ini berada di wilayah Dawuan, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Saya Jumatan di Masjid Raya Bukit Indah siang itu bukan karena secara segaja merencanakan sebelumnya untuk shalat di masjid tersebut, melainkan semata-mata karena takdir Allah yang benar-benar di luar skenario rencana awal saya. Sejak satu hari sebelumnya, Kamis 19 April 2018 memang saya menghadiri Pertemuan Penguatan Kesehatan Rujukan Wilayah Purwasukasih (Purwakarta, Subang, Karawang, Bekasi) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, bertempat di Hotel Prime Plaza, Bukit Indah City, Purwakarta. Dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung dua hari itu, sedianya akan selesai pada pukul 11.00 WIB, Jumat 20 April 2018, sehingga pada awalnya saya berpikir sangat memungkinkan bagi saya untuk shalat Jumat di Karawang, Jawa Barat. Namun, karena kondisi saat itu ternyata tidak memungkinkan, Qodarullah, akhirnya seperti tersebut di awal, saya shalat Jumat di Masjid Raya Bukit Indah, Kawasan BIC, Purwakarta.

Masjid Raya Bukit Indah, Kawasan BIC, Purwakarta
Sesuai nama kawasannya, Bukit Indah City, memang indah, ditambah lagi suasana rindang dan sejuk. Siang itu, nuansa keindahannya serasa menyatu dengan butir-butir hikmah yang memancar dari khutbah sang Khatib. Saya tidak mengenal Khatibnya, tapi saya bisa menyimpulkan dari isi khutbah yang disampaikan kalau beliau adalah seorang yang berilmu. Khutbahnya mengingatkan jemaah pada urgensi dan kedudukan spesial dari Shalat sebagai barometer seluruh amal ibadah. Cara Allah menyampaikan perintah Shalat benar-benar sangat spesial. Perintah ibadah-ibadah yang lainnya disampaikan Allah kepada Rasulullah SAW dengan perantaraan Malaikat Jibril, sementara perintah Shalat disampaikan secara langsung oleh Allah kepada Baginda Rasulullah SAW setelah sebelumnya Rasulullah  menempuh sebuah perjalanan istimewa dan benar-benar spektakuler yang spektrum maknanya melampaui segala dimensi pengetahuan manusia, Isra' dan Mi'raj.


Fakta tentang keistimewaan penyampaian perintah Shalat itu, kemudian menjadi sangat logis pula dengan fakta keistimewaan kedudukan Shalat dalam kehidupan. Dan, sepadan dengan pemaknaan itu, keistimewaan hidup dalam segala dimensinya hanya bisa diraih jika Shalat benar-benar diposisikan sebagai sesuatu yang paling istimewa dalam hidup. Dengan kata lain, tak ada satupun jenis pekerjaan atau kesibukan yang layak menggeser prioritas Shalat. Kesadaran terhadap prioritas seperti itulah yang kemudian membuat saya sangat yakin mengapa siang itu kawasan di sekitar Masjid Raya Bukit Indah seperti sebuah hamparan parkiran raksasa; sejauh mata memandang, terlihat bagaikan lautan mobil, karena para pemiliknya telah menjadi bagian dari lautan jamaah yang memadati Masjid Raya Bukit Indah siang itu. Subhanallah. Allahu Akbar. Tak terlihat dan/atau tak terdengar satupun kendaraan bergerak siang itu sampai shalat Jumat benar-benar selesai dilaksanakan. Dalam hati saya bergumam, insya Allah Indonesia akan segera berubah total menjadi negara yang paling disegani di atas permukaan bumi ini manakala suasana seperti di atas, atau yang melebihi suasana seperti di atas, bisa terlihat pula dalam pelaksanaan Shalat Subuh. Atas izin Allah, saya optimis negeri ini sedang bergerak ke arah itu.   

Lautan Mobil di Kawasan sekitar Masjid Raya Bukit Indah, Purwakarta
Sebagai penutup catatan kecil saya kali ini, izinkan saya mengutip salah satu ungkapan sang Khatib siang itu: "Hadirkanlah di dalam hati kebesaran dan keagungan Allah saat mengucapkan Takbiratul Ihram, atau setiap kali mengucapkan Takbir (Allahu Akbar) dalam Shalat. Takbiratul Ihram tanpa menghadirkan kebesaran dan keagungan Allah, adalah Takbiratul Ihram yang penuh dengan kedustaan". Astaghfirullah. Allahu Akbar.

Baca juga:

0 Response to "Masjid Raya Bukit Indah dan Barometer Seluruh Amal Ibadah"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.