Goresan Hati Saya Terkait Isu Pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir

Tertarik dengan berita simpang siur mengenai isu bebas tidaknya Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dari Penjara, saya berusaha menghimpun berita tentang topik tersebut, yang saya batasi di media-media yang bisa saya percaya, dan pada akhirnya tergerak untuk mencatat secara khusus  pernyataan Pengacara Ustadz Ba'asyir, Achmad Michdan, bahwa "bebas bersyarat sudah didapatkan kliennya sejak 13 Desember 2018 lalu dan Ustaz Abu teguh pada pendiriannya (menolak bebas bersyarat)".

Tampaknya Ustadz Ba'asyir bukan tidak mau menandatangani pernyataan setia pada NKRI maupun Pancasila. melainkan menolak sebutan bebas bersyarat. Kalau soal kesetiaan pada negara, tidak diragukan lagi, sebagaimana yang disampaikan Pengacara beliau, "Gak bisa diragukan. Bahkan dia omong kemarin, saya amat mencintai negara, bangsa serta rakyat Indonesia. Kecintaan terhadap negara merupakan bagian dari iman, itu statement beliau saat kunjungan Yusril," kata Pengacara Ustadz Ba'asyir. "Kan tinggal ditafsirkan, bahwa kecintaan terhadap negara kan lebih fleksibel ... mestinya pandai ditafsirkan dan jangan kaku," tandas Pengacara Ustadz Ba'asyir meyakinkan.
Ustadz Abu Bakar Ba'asyir
Dengan elaborasi cinta terhadap negara seperti pernyataan di atas, maka secara substansial, saya pribadi menilai, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir lebih  layak bebas murni, bukan bebas bersyarat.  Terlalu besar resikonya, dunia-akhirat, jika pribadi-pribadi berakidah lurus dan murni, yang notabene telah meyakini kecintaan kepada negara sebagai bagian dari iman, kemudian tergores hatinya. Tak teringatkah kita dengan kata-kata beliau yang cukup populer yang pernah disampaikan di hadapan Hakim yang mengadilinya, "Silahkan tentukan nasib saya di dunia, saya akan bersaksi untuk menentukan nasib anda di Akhirat".
loading...
Bagi yang masih memiliki cahaya keimanan di dalam dada, kata-kata tersebut di atas mempunyai bobot makna yang melampaui takaran nilai bumi dan langit beserta seluruh isinya. Maka, saya sangat setuju dengan pernyataan awal Presiden Jokowi, seperti disampaikan oleh Yusril Ihza Mahendra, bahwa Presiden akan memberikan pembebasan "tanpa syarat" kepada Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dengan alasan kemanusiaan, karena Ustadz Ba'asyir dinilai sudah terlalu tua dan sudah menjalani dua pertiga masa hukuman. Jika alasan kemanusiaan yang dikedepankan, sebagaimana pernyataan awal Presiden Jokowi, maka alasan-alasan lainnya, apapun namanya,  harus batal demi kemanusiaan itu sendiri. Ini kalau kita masih waras.
Sebagai penutup, sekaligus sebagai reminder hati, patut kiranya untuk selalu menjadi rujukan dalam mengambil kebijakan apapun agar tidak sampai ada orang yang terdzolimi; bukan apa-apa, doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang terdzolimi melesat bagai anak panah ke titik sasaran yang selalu tepat tanpa hambatan... Duh, Ampuni kami ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan hidup kami, dan tidak pula tujuan ilmu kami... Aamiin Ya Rabbal'alamin. 

0 Response to "Goresan Hati Saya Terkait Isu Pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.