![]() |
| Di dunia yang berlari cepat, berhenti sejenak adalah cara menjaga arah. |
Ada kegelisahan yang diam-diam dirasakan banyak orang hari ini, namun sulit dirumuskan dengan kata-kata. Hari terasa pendek, minggu berlalu tanpa jejak, dan tahun-tahun seakan menyusut. Kita bangun pagi dengan daftar rencana yang panjang, lalu kembali ke malam dengan rasa bahwa tak satu pun benar-benar selesai. Di tengah kelelahan itu, kita sering menyimpulkan satu hal: waktu sekarang tidak seperti dulu.
Apa yang kita rasakan ternyata bukan sekadar ilusi psikologis. Rasulullah ﷺ telah lama mengingatkan bahwa akan datang suatu masa ketika waktu terasa semakin cepat, dan pasar-pasar didekatkan. Sebuah sabda yang pada masanya terdengar ganjil, namun hari ini terasa begitu akrab. Sabda dari Muhammad ﷺ itu bukan sekadar nubuat, melainkan cermin yang memantulkan wajah zaman. (Hadits Rasulullah ﷺ yang menjadi rujukan artikel ini tercantum di segmen bawah artikel ini)
Cepatnya waktu bukanlah soal jam yang berputar lebih singkat atau matahari yang tergesa terbenam. Ia adalah tentang hilangnya keberkahan. Waktu tetap dua puluh empat jam, tetapi maknanya tak lagi menetap. Banyak yang dikerjakan, sedikit yang mengendap. Banyak yang dicapai, namun jarang yang menenangkan. Hidup dipenuhi gerak, tetapi miskin arah.
Dalam dunia yang terus mendesak untuk segera, manusia perlahan kehilangan seni tinggal. Kita terbiasa berpindah sebelum memahami, melompat sebelum merenung, dan mengejar sebelum bertanya: untuk apa? Akibatnya, hidup terasa penuh namun kosong, ramai tetapi sepi.
Hadits tentang didekatkannya pasar-pasar memperdalam potret ini. Pasar, dalam pengertian klasik, adalah tempat. Ia menuntut langkah, waktu, dan kesabaran. Hari ini, pasar bukan lagi lokasi, melainkan kondisi. Ia hadir di layar kecil yang selalu menyala, menawarkan apa saja, kapan saja. Jarak antara keinginan dan pemenuhan dipangkas nyaris tanpa jeda.
Kemudahan ini tidak sepenuhnya salah. Ia adalah bagian dari kemajuan. Namun di balik kemudahan, ada sesuatu yang diam-diam terkikis: ketahanan batin. Kita semakin jarang dilatih menunggu. Padahal menunggu adalah sekolah bagi kesabaran, dan kesabaran adalah pintu kedewasaan ruhani.
Pasar yang mendekat bukan hanya soal jual beli, tetapi tentang godaan yang selalu siap. Keinginan tidak lagi datang perlahan, ia menyergap. Dan ketika keinginan selalu dipenuhi dengan cepat, hati kehilangan kesempatan untuk belajar cukup. Manusia menjadi cepat lelah bukan karena terlalu sedikit memiliki, tetapi karena terlalu banyak menginginkan.
Dalam pusaran ini, iman diuji dengan cara yang halus. Bukan melalui larangan yang keras, melainkan lewat percepatan yang meninabobokan. Shalat terasa lama bagi jiwa yang dibentuk oleh kecepatan. Dzikir terasa berat bagi hati yang terbiasa dengan distraksi. Keheningan menjadi asing di dunia yang tak pernah berhenti berbicara.
Padahal, kedalaman hidup justru lahir dari keberanian untuk melambat. Bukan melambat karena tertinggal, tetapi melambat karena sadar. Sadar bahwa tidak semua yang cepat itu perlu, dan tidak semua yang ditunda itu rugi. Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami ketika kita bersedia diam lebih lama.
Hadits tentang cepatnya waktu dan dekatnya pasar sesungguhnya adalah undangan untuk menjaga jarak batin. Jika dunia mendekat, hati perlu mengambil langkah mundur. Jika waktu berlari, jiwa perlu belajar berjalan. Bukan untuk melawan zaman, tetapi agar tidak hanyut tanpa kesadaran.
Barangkali hari ini ibadah yang paling langka bukanlah yang paling berat, melainkan yang paling hening. Duduk sejenak tanpa gawai. Membaca tanpa tergesa. Berdoa tanpa target duniawi. Menghadirkan hati sepenuhnya, meski hanya sebentar. Di sanalah keberkahan yang tersisa bisa bersemi kembali.
Sebab pada akhirnya, keselamatan bukan milik mereka yang paling cepat menyesuaikan diri dengan dunia, tetapi milik mereka yang tetap mampu menjaga arah ketika dunia berlari tanpa peta.
Dan mungkin, di tengah waktu yang terasa singkat dan pasar yang terasa dekat, tugas kita bukan mengejar lebih kencang, melainkan menjadi manusia yang tetap hadir sepenuhnya, dalam iman, dalam kesadaran, dan dalam makna. Baarokallahu fiikum.
عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله ﷺ «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَالسَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ» 📚 (رواه أحمد والترمذي)
“Tidak akan terjadi Kiamat hingga waktu terasa semakin singkat; satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan terasa seperti satu pekan, satu pekan terasa seperti satu hari, satu hari terasa seperti satu jam, dan satu jam terasa seperti nyala api yang cepat padam.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)
عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله ﷺ: «إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ تَقَارُبَ الْأَسْوَاقِ» 📚 (رواه أحمد)
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah didekatkannya pasar-pasar.” (HR. Ahmad)

Post a Comment for "Tanda Akhir Zaman: Waktu Berlari dan Pasar Mendekat"
Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.