Status FB yang Menggelitik Tangan Saya untuk Menulis


Sebelum subuh pagi tadi, saya membaca pernyataan dari sebuah status yang dibagikan (share) oleh seorang sahabat di Medsos “sejuta ummat” FB. Tangan saya seperti tergelitik untuk menulis catatan atas status itu. Selengkapnya, berikut saya kutip status tersebut:

Jika suatu hari kau sakit atau tiba-tiba meninggal dunia karena kelelahan bekerja, perusahaanmu akan mencari seseorang untuk menggantikan posisimu, kemudian akan berjalan seperti biasa, kau tidak sepenting yang kau bayangkan. Sedangkan keluargamu dan sahabat yang mencintaimu akan bersedih dan menderita. Sisakan waktu untuk menemani keluarga, dan jangan lupa menyayangi diri sendiri mulai sekarang !!!

Hal yang mendorong saya untuk memberi catatan khusus atas status di atas adalah kalimat terakhir: “Sisakan waktu untuk menemani keluarga, dan jangan lupa menyayangi diri sendiri mulai sekarang!!!” Terkait eksistensi keluarga, ungkapan yang paling nyaman dihati saya adalah: “Luangkan waktu untuk menemani keluarga”, dan bukan “Sisakan waktu untuk itu”. Dimensi dan kekuatan makna yang terkandung dalam ungkapan “sisakan waktu” sangat berbeda dengan yang ada dalam ungkapan “luangkan waktu”, atau “sediakan waktu”. Harus saya katakan secara jujur bahwa aspek redaksional yang menggelitik saya untuk menulis catatan atas status di atas, tidak semata-mata karena ruang lingkup dimensi dan kekuatan makna yang dipancarkannya, akan tetapi yang paling krusial adalah karena sebagian besar esensi dan atau potensi kebaikan yang tersimpan dalam rangkaian kalimat pada status tersebut benar-benar masih menjadi bahan introspeksi atau muhasabah buat saya pribadi.

Tatkala status itu menegaskan bahwa, “jangan lupa menyayangi diri sendiri mulai sekarang juga!!!”, saya lantas bertanya pada diri sendiri, “apa sesungguhnya makna inti dari menyayangi diri sendiri itu”. Ini pertanyaan krusial yang harus mendapat jawaban yang bijak. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah egoisme kecintaan pada diri sendiri yang justru akan kontraproduktif dengan ketulusan dan kesediaan kita untuk menyediakan waktu bagi keluarga.

Saya bersyukur, banyak kawan-kawan yang mengingatkan, bahwa jika ingin mencintai diri sendiri secara benar, maka jangan pernah lupa dengan prinsip ini:

 إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri (QS. Al-Isra: 7)

Membaca prinsip di atas, pikiran saya seperti melompat, ingin menggapai hikmah ungkapan bijak yang pernah disampaikan oleh Hatim Al-Asham berikut ini:

Kuamati kehidupan manusia, kudapati setiap orang memiliki teman kesayangan. Dari beberapa teman itu, ada yang selalu bersedia menemani. Hatta, ketika sahabat yang sering ditemani itu sakit berat hingga ajal kematiannya datang menjemput, teman itupun setia mendampingi. Bahkan, teman itu ikut mengantarkan jenazah kawannya sampai ke pekuburan, tetapi setelah itu mereka semua pergi meninggalkannya seorang diri, tidak ada satupun teman yang bersedia masuk ke dalam kubur untuk menemani. Kurenungkan hal ini lalu kukatakan: sebaik-baik teman adalah yang mau menemani seseorang di dalam kubur dan menghiburnya. Sayangnya aku tidak menjumpai teman seperti itu kecuali amal saleh. Oleh karena itu, kujadikan amal saleh sebagai kecintaanku, sebagai teman sejatiku, agar dapat menjadi pelita kuburku, menghiburku di dalamnya, dan tidak akan meninggalkanku seorang diri.

Subhanallah. Ketika kebenaran (Al-Haq) menunjukkan bahwa semua yang dilakukan oleh seseorang akan balik seluruhnya kepada pelakunya, kebaikan maupun keburukan, in-ahsantum ahsantum li-anfusikum, wa-in-asa’tum falaha, maka tidak ada pilihan yang paling cerdas untuk mencintai diri sendiri selain melakukan kebaikan, tak peduli ada makhluk yang melihat atau tidak, tak peduli ada media yang meliput atau tidak, tak peduli ada pujian atau tidak. (Shaidul Khatir, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah). Semoga Allah membimbing kita dalam kebaikan menuju Ridha-Nya. Aamiin. Wallahua’lam.

0 Response to "Status FB yang Menggelitik Tangan Saya untuk Menulis"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.