Jangan Panggil Aku Ustadz



Istilah atau sebutan “Ustadz” sudah sangat familier di telinga kita, meskipun belum tentu membawa pengertian yang sama antar pihak, baik itu pihak yang mengucapkannya maupun pihak yang mendengarnya. Hati kecil saya sedikit terusik dengan fakta penggunaan istilah atau sebutan “Ustadz” yang terkesan begitu longgar. Saya beberapa kali pernah disapa dengan sebutan Ustadz. Jujur, saya tersipu malu kalau sudah disapa Ustadz. Di depan cermin suatu ketika saya pernah bergumam, "oh, apakah karena jenggot saya panjang lalu kemudian saya disapa Ustadz?" Entahlah, kelonggaran dalam menerapkan terminologi, saya kira perlu direspon dengan cara yang tepat. Jika tidak, potensi merebaknya kerancuan terminologis bisa meluas. Bahkan, secara bergurau pernah saya mengatakan, bukan saja kerancuan terminologis, tapi sekaligus juga KERACUNAN terminologis. Dengan jenggot yang panjang, masih untung saya tidak dituduh sebagai Teroris oleh orang-orang yang masuk dalam golongan Islamophobia.

Asal Usul Kata Ustadz

Kata “Ustadz” bukan berasal dari Bahasa Arab, melainkan serapan dari Bahasa Persia klasik yang kemudian di-muarrab-kan, alias dijadikan sebagai Bahasa Arab. Salah satu arti dari kata “Ustadz” dalam Kamus Al-Mu’jamul Wasith adalah “julukan akademis level puncak di Perguruan Tinggi atau Universitas”. Dalam terminologi Arab modern, ada istilah “Al-Ustadz Ad-Duktur” yang maknanya sejajar dengan “Profesor Doktor”.

Sebutan Ustadz memang tidak sembarangan ditautkan pada nama seseorang sebelum yang bersangkutan terbukti memiliki kompetensi yang memadai untuk menyandang sebutan tersebut. Minimal ada 12 Ilmu yang harus dipahami dengan baik untuk bisa layak disebut Ustadz, yakni:
  1. Ilmu Nahwu
  2. Ilmu Shorof
  3. Imu Bayan
  4. Ilmu Badi’
  5. Ilmu Ma’ani
  6. Ilmu Adab
  7. Ilmu Mantiq
  8. Ilmu Kalam
  9. Ilmu Suluk
  10. Ilmu Ushul Fiqih
  11. Ilmu Tafsir
  12. Ilmu Hadits

Memang relatif ada benarnya jika “Ustadz” diartikan sebagai guru atau pendidik, karena itu adalah pengertian global untuk kata tersebut. Namun, secara spesifik, sebutan Ustadz sesungguhnya adalah kompetensi kolektif yang memenuhi kriteria guru dalam seluruh tingkatan. Seperti dimaklumi, guru dalam khazanah Islam, memiliki banyak istilah dengan spesifikasi makna yang khas pada masing-masing nama.

Mudarris, berarti guru, dengan spesifikasi makna: orang yang menyampaikan Dirasah atau pelajaran. Dalam konteks ini, siapapun yang menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, itulah Mudarris. 

Mu’allim, berarti guru, dengan spesifikasi makna: orang yang berupaya menjadikan murid-muridnya paham, mengerti atau tahu setelah sebelumnya tidak paham, tidak mengerti atau tidak tahu. Seorang Mu’allim adalah seorang transformator pengetahuan, yang mampu menyajikan pelajaran dengan penyampaian yang mudah dipahami.

Muaddib atau Musyrif, berarti guru, dengan spesifikasi makna: orang yang mengajarkan adab (etika dan moral) agar murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Seorang Muaddib atau Musyrif lebih menekankan pada pendidikan akhlak, atau pembangunan karakter terpuji pada anak didiknya.

Murabbi, berarti guru, dengan spesifikasi makna: orang yang mendidik seseorang agar menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih mandiri. Fokus utama seorang Murabbi adalah perbaikan kualitas kepribadian seseorang melalui proses pembinaan yang intensif. Seorang Murabbi bisa dianalogikan sebagai seorang petani yang menanam benih, memelihara benih tersebut agar tumbuh menjadi tanaman yang baik, sampai akhirnya tiba saatnya panen.

Mursyid, berarti guru, dengan spesifikasi makna: orang yang memberikan bimbingan, petunjuk atau arahan (Al-Irsyad) kepada peserta didik agar mampu menggunakan akal fikiran secara tepat, sehingga mampu mencapai tingkat kesadaran tentang hakekat sesuatu. Seorang Mursyid adalah seorang pembimbing, penunjuk jalan, atau pengarah bagi peserta didik agar berada di jalan yang lurus. Mursyid adalah guru dalam pemaknaan yang lebih bernuansa sufistik.

Bagaimana dengan Makna Ustadz ?

Ustadz, sekali lagi adalah kompetensi kolektif dari seluruh pemaknaan tentang guru di atas. Seorang Ustadz adalah seorang Mudarris, seorang Mu’allim, seorang Mu’addib, seorang Musyrif, seorang Murabbi, dan sekaligus seorang Mursyid. Jika para pelaku dakwah dalam Islam belum memenuhi kriteria untuk disebut Ustadz, maka ada istilah lain yang bolehjadi lebih tepat, antara lain seperti: Dai (pendakwah), Muballigh (penyampai risalah), Khatib (penyampai khutbah), dan lain-lain.

Dalam catatan saya, Almarhum KH. Zainudin MZ semasa hidupnya tidak dipopulerkan sebutan beliau sebagai seorang Ustadz, meskipun rasa-rasanya panggilan itu bolehjadi sudah pantas disandang oleh beliau. Sebutan yang paling populer untuk beliau kala itu adalah seorang Dai, atau seorang Muballigh, yang karena simpatisannya begitu banyak, sering disebut Dai Sejuta Ummat. 

Akhirnya, dengan pemaknaan Ustadz seperti di atas, maka saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan mengatakan: Jangan Panggil Aku Ustadz. Panggil Aku Ode. Aman. Hehehe Wallahua'lam.

0 Response to "Jangan Panggil Aku Ustadz"

Post a Comment

Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.