![]() |
| Hari Tasyrik adalah hari syukur dan zikir. Di bawah cahaya matahari, daging dijemur. Di bawah cahaya iman, hati disucikan. |
Tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah disebut sebagai hari-hari tasyrik (أَيَّامُ التَّشْرِيقِ) karena pada masa dahulu kaum Muslimin melakukan proses tasyriq terhadap daging kurban, yaitu menjemur dan mengawetkannya di bawah sinar matahari agar tahan lebih lama. Kata tasyrik sendiri berasal dari akar kata Arab syarraqa (شَرَّقَ) yang berkaitan dengan matahari terbit atau paparan sinar matahari.
شَرَّقَ — يُشَرِّقُ — تَشْرِيقًا
Pada masa Rasulullah ﷺ, terutama di kawasan Hijaz yang panas dan minim fasilitas penyimpanan, daging hewan kurban yang sangat banyak perlu diolah agar tidak cepat rusak. Salah satu caranya adalah dengan memotong tipis-tipis daging lalu dijemur di bawah matahari. Aktivitas inilah yang kemudian dikenal dengan istilah tasyriq. Karena tradisi itu berlangsung pada tanggal 11–13 Dzulhijjah setelah Idul Adha, maka hari-hari tersebut disebut Ayyāmut Tasyriq.
Namun makna hari tasyrik tidak berhenti pada aspek historis semata. Dalam tradisi Islam, hari-hari tasyrik memiliki kedudukan spiritual yang sangat istimewa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)Hadis di atas menunjukkan bahwa Islam tidak memandang ibadah hanya sebagai kesunyian dan lapar semata. Setelah puncak pengorbanan pada Idul Adha, umat Islam justru diajak menikmati nikmat Allah dengan penuh syukur: makan dari daging kurban, berbagi dengan sesama, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak takbir serta zikir.
Karena itu pula, mayoritas ulama menjelaskan bahwa puasa pada hari tasyrik diharamkan bagi orang yang tidak sedang melaksanakan haji tamattu’ atau qiran yang belum mendapatkan hewan hadyu. Hari-hari ini adalah momentum syukur kolektif umat Islam.
Bagi jemaah haji, hari tasyrik juga memiliki makna yang sangat mendalam. Pada tanggal-tanggal tersebut mereka berada di Mina untuk melontar jumrah. Setelah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, hari tasyrik menjadi fase pendidikan ruhani tentang konsistensi melawan godaan dan hawa nafsu. Jumrah yang dilempar bukan sekadar simbol melempar batu, tetapi pengingat bahwa manusia harus terus menolak bisikan keburukan dalam perjalanan hidupnya.
Menariknya, hari tasyrik menghadirkan keseimbangan unik dalam Islam:
- ada ibadah, tetapi juga kegembiraan,
- ada zikir, tetapi juga jamuan makan,
- ada ritual, tetapi juga sosial,
- ada pengorbanan, tetapi juga rasa syukur.
Dalam banyak kebudayaan, spiritualitas kadang diasosiasikan dengan menjauh dari kenikmatan dunia. Tetapi Islam menghadirkan pesan berbeda: menikmati rezeki Allah dengan cara yang halal dan penuh syukur juga merupakan bagian dari ibadah.
Karena itu, takbir pada hari tasyrik terus dikumandangkan selepas salat fardu. Suara takbir yang menggema sesungguhnya bukan hanya perayaan kemenangan ritual haji atau kurban, melainkan pengingat bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah dan harus mengantar manusia kepada kerendahan hati.
Secara ruhani, hari tasyrik dapat dimaknai sebagai hari-hari “mengeringkan” ego dan kesombongan manusia, sebagaimana daging dijemur di bawah matahari. Ada sesuatu dalam diri manusia yang perlu “diterangi” oleh cahaya ketakwaan agar tidak membusuk oleh hawa nafsu.
Maka hari tasyrik bukan sekadar tiga hari setelah Idul Adha. Ia adalah hari-hari syukur, zikir, kebersamaan, dan penguatan ruhani setelah manusia diajak belajar tentang pengorbanan di hari raya kurban.

Post a Comment for "Mengapa Disebut Hari Tasyrik? Sejarah, Makna, dan Keutamaan 11–13 Dzulhijjah"
Pembaca yang budiman, silahkan dimanfaatkan kolom komentar di bawah ini sebagai sarana berbagi atau saling mengingatkan, terutama jika dalam artikel yang saya tulis terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Terima kasih.